alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Misteri Orang Tua Kandung Bocah Korban Penyekapan

Mustafa Layong

MAKASSAR - Seorang bocah laki-laki bertubuh ceking mengenakan kaus casual dengan perpaduan warna abu-abu merah itu, sesekali menyunggingkan bibir saat bermain di halaman Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Makassar, Selasa (18/9) siang.

Anak berusia 11 tahun itu, Ow alias Aw, merupakan korban penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan ibu angkatnya,  Meilania Detaly Dasilva alias Memey alias Acci ,31. Rambutnya sudah terpotong rapi, tak lagi panjang seperti saat pertama kali ditemukan usai meloloskan diri dari ruko Jalan Mirah Seruni, Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakkukang.

Dua korban lain, adik angkatnya perempuan Us alias F, 5 tahun, dan laki-laki Df alias D, 2,5 tahun, juga terlihat bermain bersama anak-anak korban kekerasan maupun berhadapan hukum lainnya.



Di satu kesempatan Ow yang asik memainkan gim daring melalui gawai menceritakan kisah pilunya selama diasuh Memey, sejak lima tahun silam. Ia didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar A Tenri Palallo, saat ditemui KORAN SINDO Makassar. 

Meski sempat sulit diajak berkomunikasi, Ow lambat laut bercerita banyak hal. Ia mengingat-ingat sejak pertama kali diasuh Memey di usia enam tahun. Sebelumnya ia dirawat perempuan yang disebutnya omah, di Kota Ambon. 

Bocah Ow membantah lahir dari rahim yang sama dengan dua adiknya. Ia mengakui Us sama dengannya, diadopsi sejak masih kecil. Sementara Df merupakan anak dari perempuan yang juga mantan pembantu Memey, sering disapanya Mami Sinta.

"Dari umur 6 tahun saya ikut, sebelumnya saya ikut di omanya mama Mey," tutur Ow sembari memainkan kedua jempolnya menyetir mobil dalam layar gawai.

Ow menceritakan, ruko Mirah Seruni termpatnya disekap sudah dikontrak selama hampir tiga tahun, yang habis masa sewanya sebulan lagi. Sebelumnya pada 2017 lalu, Memey membawanya dan Us keluar dari rumah itu lalu mencari tempat huniaan lain. 

Alasannya sejak bangkrut, Memey yang berkerja sebagai pedagang kerap menghidari penagihan utang. Salah satunya, kata Ow seorang pria berseragam Polri yang sering mendatangi ruko tersebut untuk mendesak ibu angkatnya segera membayar. 

Sejak itulah, Memey dan anak angkatnya terus berpindah-pindah tempat, hingga sempat ditemukan menelantarkan Ow dan Us di salah satu ruko Jalan veteran, 2017 lalu. Setelah kasus itu berakhir dengan mediasi, diam-diam Memey kembali ke ruko Mirah Seruni. 

"Kabur dari utang,  pindah, banyak tempat. Ada utang di polisi, dan temannya. Polisi itu di Toddopuli, tapi saya nda tau namanya. Pakai baju polisi, ada tembaknya, biasa dicopot, dia datang minta uang berapa saja yang ada untuk hari ini," terang Ow.

Sementara Memey di hadapan polisi mengakui Ow dan Us merupakan anak yang lahir dari rahimnya. Sementara Df diakuinya hanya diangkat dari salah satu mantan pembantu. 

Meski demikian, Memey tak dapat membuktikan kata-katanya itu, apalagi ia kesulitan menunjukkan dukomen maupun catatan kelahiran dua bocah tersebut. Bukan itu saja, suami perempuan berambut panjang itu pun masih misterius. 

Untuk memastikan hubungan darah tersangka dan korban, penyidik Unit PPA Polrestabes Makassar barencana melakukan tes DNA hari ini. "Dia mengakui jika anak yang pertama dan yang kedua adalah anak kandungnya sementara yang ketiga bukan. Kami akan memastikan itu dengan melakukan tes DNA," jelas Kepala Satuan Reskrim Polrestabes Makassar Kompol Wirdhanto Hadicaksono. 

Dipaksa Beri Makan dan Bersihkan Kotoran Hewan

Tiga kakak beradik yang disekap dalam ruko bersama enam ekor anjing kini telah kembali menjalani hidup yang lebih bersahabat. Namun masih teringat di benak mereka, amarah Memey tiap kali rumah tiga lantai itu kotor. 

Tiap hari Memey meninggalkan Ow dan adik-adiknya sejak pagi dan pulang larut malam. Selama itu, mereka dipaksa memasak sendiri, jika ada lauk dan beras. Bahkan tiap hari harus membersihkan semua bagian rumah, termasuk kotoran anjing peliharan yang berada di lantai 3. 

"Disuruh bersihkan lantai satu, dua dan tiga, kalau Mami pulang tidak bersih, Mami marah . Disuruh juga bersihkan kotoran anjing. Kalau Mami marah saya diam," tutur Ow. 

Ow dan Us juga bertugas bergantian memandikan Df. Termasuk menceboki kotoran si bungsu sehari-hari.

P2TP2A Jamin Pendidikan Korban

Masa depan bocah korban penyekapan kini menjadi tanggungjawab pemerintah kota melaui P2TP2A Kota Makassar. Seiring melakukan pendampingan psikolong untuk mengobati trauma anak, pemerintah juga tengah mengupayakan pelayanan pendidikan.

Khususnya untuk Ow, P2TP2A Kota Makassar kini mendapatkan salah satu sekolah dasar di kawasan Panakkukang yang siap menampung si sulung. Bagaimana tidak, sejak 2 tahun lalu, ia tak dapat melanjutkan sekolah di kelas 4 lantaran tak mendapat restu Memey.

"Dulu sekolah di sekolah Zion kelas 4. Tapi dua tahun tidak lagi. Saya mau sekolah," jelas Ow. 

Kepala DP3A Kota Makassar A Tenri Palallo menyebutkan, mulai hari ini Ow sudah akan diantar ke salah satu sekolah yang siap menampungnya. Sementara Us dan Df sejak beberapa hari lalu telah disekolahkan di salah satu TK. 

"Alahamdulillah, sudah ada SD yang siap menerima Ow. Ketiganya akan disekolahkan semua. Karena anak-anak harus mendapatkan haknya, seperti ceria dan sekolah," terang Tenri. 

Ibu Angkat Diancam Penjara 5 Tahun

Sehari pasca ditangkap, Meilania Detaly Dasilva alias Memey alias Acci resmi berstatus tersangka dalam kasus penyekapan dan penganiayaan tiga bocah yang juga anak angkatnya. Penetapan Memey sebagai tersangka tunggal dilakukan setelah penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak , Satreskrim Polrestabes Makassar menggelar perkara, siang kemarin.

Berdasarkan bukti-bukti, baik keterangan saksi korban, visum at rapertum, hingga alat bukti di dalam ruko, ditemukan indikasi kuat kejahatan Memey. "Kami menetapkan satu tersangka yakni M alias MM (Memey),  yang merupakan ibu dari ketiga anak tersebut. Berdasarkan dari alat bukti yang berhasil kami kumpulkan, diduga adanya  kekerasan dan juga penelantaran serta perlakuan salah dari orang tua," jelas Kepala Satreskrim Polrestabes Makassar Kompol Wirdhanto Hadicaksono saat menggelar konfrensi pers.

Karena perbuatannya, Memey dijerat menggunakan pasal berlapis, yakni Pasal 77B juncto 76D, Pasal 80 Ayat (1) juncto 76C UU RI 17/ 2016 tentang Perlindungan Anak, serta Pasal 44 Ayat (1) UU RI 23/2005 tentang PKDRT. 

"Diancam dengan pasal berlapis, diduga melakukan penelantaran dan perlakuan salah serta kekerasan terhadap anak. Dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara," ungkap Wirdhanto.

Di hadapan penyidik Memey menyebut motif perbuatannya itu karena himpitan ekonomi. Ia mengaku kesulitan merawat tiga bocah itu setelah bangkrut dan harus bekerja lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan kondisi itu, Memey menngaku melampiaskan emosi dengan menganiaya tiga bocah malang itu. 

 

 



(kem)