alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Gelombang Kawal Suara Rakyat di Pilwalkot Makassar Bermunculan

Luqman Zainuddin
Gelombang Kawal Suara Rakyat di Pilwalkot Makassar Bermunculan
Relawan Kolom kosong melakukan aksi unjuk rasa. Foto: Istimewa

MAKASSAR - Gelombang dukungan terhadap proses rekapitulasi penghitungan suara pemilihan wali kota dan wakil wali kota (Pilwalkot) Makassar yang terbuka dan jujur terus berdatangan. Terbaru, sekelompok orang yang menamakan diri sebagai Relawan Kolom Kosong (Rewako) ikut menyuarakan itu.

Di depan sekretariat KPU Sulsel di Jalan AP Pettarani kemarin, Rewako menyuarakan aspirasi mereka. Mereka mendesak, agar KPU Sulsel memberi perhatian khusus pada proses perhitungan suara di Pilwalkot Makassar. Hal itu menyusul, indikasi manipulasi hasil perhitungan yang terjadi di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).

"Pilwalkot Makassar menjadi sebuah peringatan. Siapapun yang bermain-main dan memaksakan kehendak pada rakyat, akan menuai perlawanan dari rakyat. Ini menjadi pembuktian bahwa rakyat Makassar lantang tunduk dan menyerah pada kekuatan oligarki," terang Koordinator Rewako Kota Makassar Anshar Manrulu, kemarin.



Apalagi, kata Anshar, sudah beberapa hari ini masyarakat disuguhkan dengan pemberitaan mengenai dugaan-dugaan manipulasi yang sementara berproses di Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Kepada Panwaslu, mereka meminta agar semua yang terlibat, diseret.

"Panwaslu harus memberikan sanksi tegas pada pelaksana pemilu yang terbukti terlibat dalam kecurangan manipulasi data," papar dia.

Andai praktik kecurangan manipulasi masih terus terjadi, Rewako Kota Makassar menjanjikan akan mendatangkan seluruh jaringan relawan dan mempersiapkan diri melakukan aksi serentak di 15 Kecamatan se-Kota Makassar.

"Jangan coba coba memanipulasi data, karena kami relawan Koko punya data yang akurat. Kami datang pada hari ini, hanya perwakilan, kalau ada yang memanipulasi data, kami akan kerahkan seluruh tim untuk turun ke jalan," tegasnya.

Saat ini, pihaknya cukup khawatir dengan proses rekapitulasi yang sedang berlangsung di tingkat kecamatan. Apalagi, ada sikap sejumlah oknum yang berusaha menutup-nutupi proses rekapitulasi. Bukan hanya masyarakat, bahkan akses pada jurnalis pun juga ikut dibatasi.

Kondisi tersebut kata dia, diperparah dengan kondisi laman KPU RI yang sebelumnya memosting hasil pergitungan C1 di kecamatan yang sudah tak bisa diakses. Padahal, sebelum ini, sistem ini berhasil membongkar kecurangan di TPS yang berada di Bontoduri.

"Kami sulit mendeteksi kecurangan, karena server KPU tidak lagi bisa diakses," katanya.



(agn)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
sindonews ads