alexa snippet
more
TOPIK TERPOPULER

Dituduh Monopoli Android, Google Terancam Denda Rp72 Triliun

Koran Sindo
Dituduh Monopoli Android, Google Terancam Denda Rp72 Triliun
GOOGLE. Google terancam denda 4,3 miliar euro (Rp72 triliun, kurs Rp16.752 per euro) atas monopoli di sistem operasi Android pada 1.300 merek smartphone di Eropa. Foto: Ilustrasi/Istimewa

BRUSSELS - Google LLC terancam didenda hingga 4,3 miliar euro (Rp72 triliun, kurs Rp16.752 per euro) atas monopoli di sistem operasi Android pada 1.300 merek smartphone di Eropa.

Perusahaan teknologi layanan dan produk internet itukembali dituduh melanggar aturan kompetisi Uni Eropa (UE).

Tuduhan itu dikeluarkan Direktorat Jenderal Kompetisi Komisi Eropa UE setelah melakukan penyelidikan selama tiga tahun.

Institusi yang bertanggung jawab mengelola bisnis di Eropa itu turun melakukan inspeksi lapangan setelah adanya laporan mengenai strategi tidak adil Google demi memperkuat dominasinya di gawai bersistem Android.

Sejauh ini, Komisi Eropa masih menunda pengumuman penalti terhadap Google. Namun, informasi itu sudah bocor ke sejumlah media.

Sanksi Rp72 triliun pun menjadi denda terbesar yang pernah dijatuhkan Komisi Eropa terhadap satu perusahaan, setelah Intel didenda senilai 1,06 miliar euro (Rp17,7 triliun) pada Mei 2009.

Direktorat Jenderal Kompetisi Komisi Eropa UE mulai resmi menyelidiki Google pada April 2015, tepatnya setelah mendapat keluhan dari FairSearch. Hasilnya, Google diduga telah menghalangi akses pasar perusahaan pesaing dan layanan dan aplikasi komunikasi mobile di Area Ekonomi Eropa (EEA).

Penyelidikan Komisi Eropa terfokus pada tiga tuduhan. Pertama, apakah Google memaksa manufaktur memasang aplikasi mereka secara eksklusif. Kedua, apakah Google mencekal modifikasi Android. Ketiga, apakah Google mencoba mencegah pesaing untuk memasang aplikasinya dengan menawarkan produk berbentuk bundle.

“Penyelidikan ini terpisah dari penyelidikan terhadap kasus mesin pencarian Google,” ungkap Komisi Eropa dalam keterangan pers di europa.ie. Google memimpin pengembangan Android sejak 2005 yang kini menjadi sistem operasi paling terdepan di kawasan ekonomi Eropa. Dominasi Android ini pun membuat pesaingnya seperti iOS dari Apple dan Windows Phone tersingkir.

Berdasarkan hasil riset gs.statcounter.com sampai Juni tahun ini, pangsa pasar Android di Eropa mencapai 74%. Sisanya dikuasai iOS (24,06%), Windows (0,91%), tak diketahui (0,31%), Samsung (0,23%), dan Linux (0,1%). FairSearch sendiri merupakan kelompok bisnis yang beranggotakan Microsoft, Nokia, dan Oracle.

Android merupakan sistem open-source. Artinya, Android dapat dikembangkan siapa saja dan digunakan dengan bebas. Namun, menurut Komisi Eropa, mayoritas manufaktur tablet dan smartphone harus menekan kesepakatan dengan Google dan dituntut memasang layanan dan aplikasi Google seperti chrome, gmail, dll.

“Pasal 101 Hukum UE (TFEU) melarang keputusan dan kesepakatan anti-kompetisi oleh satu asosiasi,” ungkap Komisi Eropa. “Pasal 102 TFEU juga melarang penyelewengan posisi dominan yang dapat memengaruhi perdagangan dan kompetisi. Provisi ini diterapkan sesuai Regulasi Dewan No 1/2003,” tambah mereka.

Google menepis semua tuduhan Komisi Eropa. Wakil Presiden Senior Google Kent Walker menyatakan, ekosistem Android telah menyeimbangkan kepentingan pengguna, pengembang, pembuat perangkat keras, dan operator jaringan data seluler. Android tidak melukai kompetisi, tapi memperluasnya.

halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
sindonews ads