alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Dari Hulu Hingga Hilir PT Vale Setia Dampingi SRI Organik

Suwarny Dammar
Dari Hulu Hingga Hilir PT Vale Setia Dampingi SRI Organik
Para petani mengolah kotoran hewan ternak menjadi pupuk organik. Foto : Muchtamir Zaide/SINDOnews

MALILI - Merintis kehadiran program pertanian ramah lingkungan di areal Pemberdayaan PT Vale Indonesia Tbk, bukan perkara mudah.

Betapa tidak, mindset masyarakat saat itu sudah tertanam menerapkan pola pertanian non organik dengan mengandalkan segala hal kebutuhan perawatan persawahan sistem praktis. Mau racun hama, semua dapat dibeli dengan mudah semua hanya mengandalkan uang.

Namun, kondisi tersebut tak membuat perusahaan penghasil nikel ini patah arang. Berkat program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan yang dihadirkan dan di dalamnya memuat peran kemitraan strategis dan kontribusi dikenalkanlah strategis pola budidaya System of Rice Intensification (SRI) Organik.



Melalui SRI Organik inilah, pada 2014 sejumlah petani dibeberapa areal percontohan mulai tertarik. Kenapa, karena tak hanya petani yang dapat merasakan manfaatnya, tapi juga retail hingga mereka yang mengkonsumsi produksi beras organik ini.

Bisa dibilang, jika SRI Organik menjad pemicu meningkatnya kesejahteraan petani hingga penjual berasnya. Apalagi, kehadiran program budidaya pertanian SRI Organik ini tak hanya digelontorkan begitu saja.

Tetapi, dengan komitmen kepedulian PT Vale mendorong hadirnya pertanian yang ramah lingkungan segalanya diurus. PT Vale mengurusi SRI Organik dari hulu hingga hilirnya, tak hanya mengajari pola penerapan budidayanya tapi juga membantu mengakses market hingga bisa berada di tangan konsumen.

Menurut Senior Cordinator Program Terpadu Pengembangan Masyarakat (PTPM) PT Vale Indonesia, Tbk, Laode Muhammad  Ichman, perseroan melakukan penguatan mulai dari teknis budidaya ramah lingkungan, kelembagaan kelompok tani, pengelolaan pasca panen, diversifikasi komoditas untuk nilai tambah dan akses pasar.

“Pendampingan pengolahan pasca panen dilakukan guna memastikan produk beras organik di terima oleh pasar. Tak hanya itu dalam urusan design hingga kemasan juga menjadi perhatian,” ujarnya, kemarin.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga membangun jaringan pasar dengan toko dan promosi ke konsumen melibatkan koperasi karyawan Vale.
Sedangkan, untuk menembus market retail sedang dibangun komunikasi. Memang tak dipungkiri beras organik masih belum menjadi konsumsi pokok masyarakat, terkecuali bagi mereka yang paham akan manfaat kesehatan pada produk tersebut.

Hal itu pulalah yang menjadi alasan bagi, Pemilik Toko Feby, Asriani  Musdalifa, 46, yang berlokasi di Jalan Danau Matano, Sorowao untuk turut andil memasarkan beras organik brand Matano Rice.

Brand lokal beras organik dikemas dalam bentuk plastik bening agar mudah dilihat konsumen. Tak hanya itu, pada kemasannya sangat jelas tertera jika beras ini merupakan beras sehat organik.

Mengkonsumsinya adalah hal tepat, karena sehat dan dilengkapi embel-embel gurih, pulen dan wangi. Ada pula tulisan Budidaya Ekologis,proses modern dan higienis.

Menurutnya, ikut andil dalam memasarkan produk beras organik tidak lain karena manfaatnya serta kualitasnya, meski harganya tentu mahal dari beras biasa. Dia beralasan, beras organik lebih enak dari beras yang kebanyakan dijual di tokonya.

Meski mahal, beruntung, kata Asriani, pembelinya merupakan konsumen yang tidak memikirkan harga tapi kualitas produk.

“Saya sudah lama jual beras organik, memang harganya mahal tapi manfaatnya sangat bagus bagi kesehatan,” tuturnya.

Di toko miliknya, Asriani memasarkan beras organic dengan dua pilihan, yakni 2 kilo gram (kg) dipatok dengan harga Rp35.000 dan 5 kg dipatok Rp85.000 beras putih dan dijual pula beras organik warna merah.

“Alhamdulillah,  berasnya cepat habis utamanya beras merah. Konsumen suka, termasuk saya mengkonsumsinya sudah 4 tahun. Selain pulen juga berasnya wangi,” terangnya.

Terpisah, Petani SRI Organik asal Desa Mahalona, Sutrisno mengaku, sangat beruntung menerapkan pola pertanian ini, karena dari sisi biaya dan hasil pertanian memberikan efek positif terhadap pendapatannya.

“Dulu waktu pola konvensional mengandalkan pestisida lahan seluas 20 hektar hanya menghasilkan 11 kanduk gabah basah, dengan asumsi 1 kandung sekitar 64 kg. Sementara, pola SRI Organik di lahan serupa mampu menghasilkan hingga 15 kanduk. Selain itu, dari sisi pemanfaatan kesehatan sangat memberikan manfaat bagi yang mengkonsumsinya,” paparnya yang sudah menerapkan pola ini sejak tahun 2015.



(sss)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif