alexa snippet
more
TOPIK TERPOPULER

Selama Minyaknya Terjual, Iran Tetap Pada Kesepakatan Nuklir

Tim Sindonews
Selama Minyaknya Terjual, Iran Tetap Pada Kesepakatan Nuklir
Teheran akan tetap dalam perjanjian Nuklir 2015. Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani. Foto : Istimewa

BERLIN - Teheran akan tetap dalam perjanjian Nuklir 2015. Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif mengatakan, pihaknya menyepakati hal tersebut selama minyak Iran dibeli dan mendapatkan penghasilan.

"Kesepakatan itu bukan urusan cinta tetapi kompromi yang masuk akal," ujar Zarif mengatakan kepada majalah Spiegel Jerman.

"Republik Islam akan terus berpegang pada kesepakatan selama itu memenuhi kepentingan kami," tegas diplomat top Iran itu.

Dikatakan oleh Zarif, sangat penting bahwa Iran mampu menjual minyak dalam jumlah yang wajar dan mendapatkan transfer yang masuk akal. Sementara Teheran ingin bekerja sama dalam investasi, ilmu pengetahuan, teknologi tinggi dan perdagangan, minyak dan perbankan adalah indikator penting tentang seberapa efisien kesepakatan nuklir 2015.

Iran dan enam kekuatan utama dunia - Rusia, China, AS, Inggris, Prancis, dan Jerman - mencapai kesepakatan penting setelah lebih dari sepuluh tahun perundingan on-off. Di bawah Donald Trump, yang mencapnya sebagai kesepakatan terburuk yang pernah ada, AS keluar dari kesepakatan itu. AS juga menjatuhkan sanksi terhadap Teheran.

Namun, penandatangan lainnya tidak mengikuti jejal AS. Pada musim semi tahun ini, Perdana Menteri Inggris Theresa May, Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel mempelopori dorongan baru agar kesepakatan tetap utuh. Para pemimpin setuju bahwa itu adalah cara terbaik untuk menetralkan ancaman Iran yang bersenjata nuklir.

Pada bulan Juni, Uni Eropa merilis pernyataan bersama, bersikeras bahwa menjaga kesepakatan nuklir dengan Iran adalah masalah menghormati perjanjian internasional dan masalah keamanan internasional. Brussels juga berjanji untuk melindungi perusahaan-perusahaan Eropa yang melakukan bisnis dengan Iran dari dampak Sanksi ekstra-teritorial AS.

"Orang-orang Eropa dan penandatangan lainnya harus bekerja untuk mengkompensasi sanksi AS," ucap Zarif.

"Sangat penting bahwa Eropa harus melakukannya bukan untuk Iran, tetapi untuk kedaulatannya sendiri dan kepentingan ekonomi jangka panjang," ia menawarkan seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (16/9/2018).

Sebelumnya, Zarif menyatakan bahwa bergabung dengan kesepakatan itu mungkin merupakan kesalahan strategis di pihak Iran.

"Tapi masalahnya adalah kami merasa bahwa Amerika Serikat telah belajar bahwa, setidaknya sejauh menyangkut Iran, sanksi memang menghasilkan kesulitan ekonomi, tetapi tidak menghasilkan hasil politik yang mereka inginkan untuk mereka hasilkan," katanya.

“Saya pikir orang-orang Amerika telah mempelajari pelajaran itu. Sayangnya, saya salah,” katanya kepada Nick Paton Walsh dari CNN.



(sss)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
sindonews ads