TOPIK TERPOPULER

Warga Desa Tumpabiring Maros Kesulitan Air bersih

Najmi Limonu
Warga Desa Tumpabiring Maros Kesulitan Air bersih
Seorang warga mengambil air dari penampungan tada hujan di Kabupaten Maros. Foto: SINDOnews/Najmi Limonu

MAROS - Warga Desa Tumpabiring, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulsel mulai merasakan dampak musim kemarau. Warga yang berdomisili di wilayah pesisir Maros ini, mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci.

Sejak hujan tak lagi turun, warga pun terpaksa menggunakan air kubangan kotor yang sudah mengeluarkan bau untuk keperluan sehari-hari. Kondisi ini telah terjadi sejak beberapa tahun lalu, dan terus terulang setiap memasuki musim kemarau.

Agar bisa mendapatkan air, warga harus berjalan kaki melalui pematang tambak dan sawah menuju sebuah sumur penampungan tada hujan yang sudah mengering.



Baca juga: Kemarau Baru Mulai, Warga Selatan KBB Sudah Kesulitan Air Bersih

"Di sini kami merasakan krisis air sudah lama. Sejak Ramadhan kemarin, terpaksa kami sehari-harinya ambil air di sumur tadah hujan, itupun sudah sangat sedikit dan mulai berbau," jelas Salmiah salah seorang warga Desa Tumpabiring.

Salmiah menjelaskan, warga terpaksa menggunakan air kotor untuk keperluan sehari- hari, lantaran suplai air bersih dari truk tangki penjual air keliling dirasa begitu mahal semenjak pandemi COVID-19 merebak.

"Untuk keperluan mencuci dan mandi kita gunakan air kotor ini, sementara untuk minum kita tetap beli air galon. Dulu masih mampu beli air untuk mengisi tandon penampungan di rumah. Tapi semenjak corona, uang susah didapat, anak dan suami pada dirumahkan," keluhnya.

Selain dirinya, warga lain pun yang bermukim di pesisir Maros, juga merasakan hal yang sama, lantaran setiap tahun saat kemarau panjang tiba, krisis air bersih di wilayah pesisir sudah menjadi polemik tahunan yang tak kunjung usai.

Merekapun berharap besar kepada pemerintah untuk memberikan solusi, agar ke depannya masyarakat pesisir tak lagi bersusah payah untuk keperluan air bersih.

Diketahui di Kabupaten Maros, ada 3 kecamatan yang setiap tahunnya dilanda kekeringan dan krisis air bersih, yakni Kecamatan Marusu, Kecamatan Laun serta Kecamatan Bontoa. Kondisi ini diakibatkan tak adanya suplai air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) milik pemerintah setempat.

Baca juga: Ini Penyebab Suhu Dingin dan Prediksi Puncak Kemarau di Indonesia

Sementara itu Kepala Badan Meteorologi Stasiun Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hartanto menuturkan, untuk saat ini wilayah pantai barat atau Kabupaten Maros sudah memasuki puncak musim kemarau.

"Wilayah pantai barat meliputi Makassar hingga Parepare. Sekarang ini sudah memasuki puncak musim kemarau. Puncak musim kemarau itu antara bulan Agustus, sampai bulan September," ujarnya.

Dia juga menjelaskan, jika pantai barat itu, cenderung lebih kering dibanding wilayah pesisir timur.



(luq)

preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!