TOPIK TERPOPULER

Lukisan Kayu Karya Pemuda Leang-leang : Pindahkan Relief Prasejarah ke Atas Jati

Najmi Limonu
Lukisan Kayu Karya Pemuda Leang-leang : Pindahkan Relief Prasejarah ke Atas Jati
Pergerakan pemuda yang dimotori Muslimin ini, memilih papan kayu jati dan tripleks sebagai media lukisan relief peninggalan prasejarah yang ditemukan di gua-gua sekitar Leang-leang. Foto : SINDOnews/Najmi Limonu

MAROS - Seni lukis biasanya diekspresikan melalui media kanvas atau kertas. Namun tidak demikian yang dilakukan oleh sekelompok pemuda di area Kawasan Wisata Taman Prasejarah Leang-leang, Kelurahan Kallabirang, Kabupaten Maros.

Pergerakan pemuda yang dimotori Muslimin ini, memilih papan kayu jati dan tripleks sebagai media lukisan relief peninggalan prasejarah yang ditemukan di gua-gua sekitar Leang-leang.

Penggerak Forum Pemuda Kreatif Sampeang (FPKS), Muslimin menjelaskan, para pemuda di kampungnya diajari cara membuat lukisan bertemakan rock art. Karena lokasi mereka berada di Taman Prasejarah Leang-leang, maka mereka mengfokuskan diri untuk melukis beberapa temuan lukisan yang terdapat di dinding gua peninggalan manusia prasejarah. Lukisan yang mereka buat tersebut dilakukan dengan cara dibakar.



Muslimin mengaku, kegiatan melukis di atas kayu jati dan tripleks ini sudah digelutinya kurang lebih setahun. Diakuinya, lukisan dengan cara dibakar menggunakan kayu dan bahan solder bakar ini bukanlah yang pertama dilakukan di Indonesia.

Karena pada dasarnya mereka sendiri belajar dari berbagi sumber refrensi untuk ditonton. Hanya saja, apa yang mereka lukis tersebut bisa dikatakan tidak ada samanya dengan pelukis lainnya. Karena mereka mengusung tema lukisan penemuan peradaban manusia di masa lampau.

"Yang dilukis ini rock art sebuah gambar yang menyerupai Kawasan wisata prasejarah, makanya kita fokus dengan yang berbau rok art atau lukisan dinding gua. Awal mulanya sy terinspirasi dari berbagai lukisan yang d dinding gua prasejarah leang leang yang berusia ribuan tahun. Selain itu, keresahan teman-teman yang sering berkumpul yang ingin membuat sesuatu yang berkarya. Apalagi di masa pandemi ini, sama sekali tidak ada pemasukan. Makanya mereka belajar dengan cara otodidak untuk membuat lukisan bakar ini. Mereka yang berada di perkumpulan FPKS ini berjumlah sekitar 10 orang. Mereka mulai berkreasi membuat lukisan. Kami fokuskna di lukisan prasejarah yang berasal dari masa lampau," jelasnya.

Muslimin mengatakan, untuk sebuah lukisan bakar dengan ukuran 30cm×20cm mampu diselesaikan dalam dua hari. Itu sudah termasuk membingkai lukisan dan siap dikirim ke tempat orang yang memasannya. "Kalau diseriusi, setiap lukisan itu bisa dikerjakan dalam dua hari saja sampai selesai. Termasuk membingkainya," jelasnya.

Meski terbilang rumit dalam pengerjaannya, bukan berarti mereka mematok harga tinggi untuk sebuah lukisan bakar tersebut. Muslimin mengaku satu buah lukisan itu dihargai sekitar Rp150 ribu. Sementara itu, selama masa pandemi ini, mereka terpaksa hanya bisa mempromosikan lukisan bakarnya melalui sosial media. Pasalnya sejak awal pandemi, Taman Wisata Prasejarah Leang-leang belum dibuka untuk umum.

"Kedepannya kami berencana akan membuka galeri art di Taman Prasejarah Leang-leang. Namun karena adanya pandemi, jadi kami hanya bisa mempromosikan melalui sosial media," jelasnya.

Sementara itu salah satu pecinta seni lukis Bakar, Alfi mengaku sangat menyukai hasil lukisan tersebut. Bahkan kesamaan lukisan tangan manusia purba di gua Leang-leang memiliki kesamaan dengan lukisan tersebut. Itulah yang membuat dirinya tertarik membeli salah satu lukisan yang dibuat pemuda Leang-leang.



(sri)

preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!