alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Hampir Dua Pekan, 721 Kali Gempa Sudah Terjadi di Mamasa

Asrianto Suardi
Hampir Dua Pekan, 721 Kali Gempa Sudah Terjadi di Mamasa
Tim BMKG melakukan penelitian gempa yang terus terjadi di Kabupaten Mamasa. Foto: Asrianto Suardi/SINDOnews

MAMASA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, mencatat 721 kali gempa sudah terjadi di Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat sejak hampir dua pekan terakhir.

Dari Data BMKG sejak tanggal 6 hingga 21 November 2018, sudah 721 kali terjadi gempa. Magnitudo gempa ini bervariasi mulai dari 2-5 Skala Richter (SR).

Usai melakukan penelitian di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, tim ahli gempa dari BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) pusat mengumunkan hasil analisis dan penelitiannya.



Rosid, Anggota tim BMKG pusat, menjelaskan bahwa, gempa ini menurut BMKG adalah tipe Swarm, artinya akan berlangsung lama dan sering terjadi, namun hanya dalam skala yang lebih kecil.

Gempa ini kata dia, memang ada kaitannya dengan gempa Palu yang terjadi sebelumnya pada akhir September lalu. Namun, gempa di Mamasa tidak berpotensi pencairan tanah atau likuifaksi tanah sebab fenomena itu yang terjadi ketika ada tanah yang kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat.

"Struktur tanah di Mamasa sangat keras dan padat, sehingga kami menyimpulkan bahwa kecil kemungkinan ada likuifaksi," jelasnya, Rabu (21/11/2018).

Sebelumnya, Tim ahli gempa dari BMKG pusat dan wilayah IV Makassar telah melakukan penelitian selama beberapa hari di Mamasa. Tim ini juga telah melakukan penggalian tanah dengan kedalaman beberapa meter dan mengambil dan melihat sampel tanah di Mamasa.

Hasil analisisis ini membuktikan bahwa, lapisan bawah tanah di Mamasa terdiri dari bebatuan padat dan keras sehingga tidak ada potensi likuifaksi adapun bentuk gempa bumi yang terjadi di Mamasa terjadi akibat adanya patahan atau retakan dikerak bumi yang membuat pergesekan antar lempeng batuan inilah yang sebut, gempa bumi tektonik.

Ia menghimbau kepada masyarakat agar tidak takut dan panik jika terjadi gempa susulan, sebab ini biasa terjadi. Namun ia tetap mengimbau agar warga tetap waspada.

"Masyarakat tidak perlu resah terkait isu bahwa ada rongga dibawah itu tidak dapat dibenarkan karena jika benar maka sejak gempa pertama tentu sudah akan roboh ke bawah apalagi gempa telah berlangsung sekian kali," pungkasnya.



(agn)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
sindonews ads