alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

BPS Rilis Jumlah Warga Miskin Menurun di Sulsel, 46 Ribu Jiwa

Marhawanti Sehe
BPS Rilis Jumlah Warga Miskin Menurun di Sulsel, 46 Ribu Jiwa
Ilustrasi/SINDOnews

MAKASSAR - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah warga miskin mengalami penurunan di Sulsel. Data yang dirilis menunjukkan penurunan jumlah warga di bulan September 2018 sebesar 46,33 ribu jiwa.

Hal tersebut diutarakan Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sulsel, Fahruddin dalam rilis pers, Selasa (15/01/2019). Saat ini jumlah warga miskin di Sulsel tercatat kurang lebih 779,64 ribu jiwa. 

Sebelumnya, pada bulan September 2017 jumlah warga miskin di Sulsel mencapai 825,97 ribu jiwa dan mengalami penurunan sebesar 8,87 persen. Jika dilihat dari daerahnya, jumlah penduduk miskin terbesar berasal dari desa yakni 610,94 ribu jiwa atau sebesar 12,15 persen.



Sedangkan dari daerah perkotaan, warga miskin di Sulsel hanya mencapai 168,70 ribu jiwa atau sebesar 4,48 persen.

"Secara absolut selama periode September 2017 hingga September 2018, persentase penduduk miskin di perkotaan dan di perdesaan mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,28 dan 0,50 poin persen," jelas Fahruddin.

Dia menjelaskan, besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.

"Selama September 2017 hingga September 2018, Garis Kemiskinan mengalami kenaikan, yaitu dari Rp 294.358 per kapita per bulan menjadi Rp 315.738 per kapita per bulan atau naik 7,26 persen," katanya.

Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).

Pada bulan September 2017, sumbangan GKM terhadap GK sebesar 74,59 persen, hal yang sama terjadi pada bulan September 2018 peranannya juga relatif sama namun sedikit mengalami peningkatan menjadi 74,95 persen.

Peranan GKM terhadap GK untuk daerah perkotaan pada bulan September 2017 sebesar 68,93 persen naik menjadi 70,45 persen pada bulan September 2018, sedangkan untuk daerah perdesaan pada bulan September 2018 sebesar 78,52 persen, mengalami penurunan sebesar 0,03 persen dari bulan September 2017 yang sebesar 78,55.

"Komoditi makanan yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. Pada bulan September 2018, sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan sebesar 19,03 persen di perkotaan dan 29,55 persen di perdesaan," terang dia.

Selain beras, lanjut Fahruddin, barang-barang kebutuhan pokok lain yang berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan Makanan diantaranya adalah rokok kretek filter (9,86 persen di perkotan dan 9,02 persen di perdesaan), kue basah (3,37 persen di perkotaan dan 1,75 persen di perdesaan), bandeng (3,25 persen di perkotaan dan 3,69 persen di perdesaan), gula pasir (2,23 persen di perkotaan dan 3,61 persen di perdesaan), telur ayam ras (3,22 persen di perkotaan dan 2,63 persen di perdesaan), dan mie instan (2,60 persen di perkotaan dan 2,02 persen di perdesaan).

Komoditi bukan makanan yang paling penting bagi penduduk miskin, tetapi pengeluaran perumahan. Pada bulan September 2018, sumbangan pengeluaran perumahan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 7,55 persen di perkotaan dan 6,82 persen di perdesaan.

Selain perumahan, barang-barang kebutuhan non makanan lain yang berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan diantaranya adalah bensin (4,46 persen di perkotaan dan 4,05 persen di perdesaan), listrik (3,64 persen di perkotaan dan 2,17 persen di perdesaan), pendidikan (2,67 persen di perkotaan dan 1,10 persen di perdesaan), perlengkapan mandi (1,15 persen di perkotaan dan 0,82 persen di perdesaan), dan air (1,33 persen di perkotaan dan 0,41 persen di perdesaan).



(bds)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
sindonews ads