TOPIK TERPOPULER

Korban Pembacokan Satu Keluarga di Panakkukang Jalani Operasi di RS Berbeda

Faisal Mustafa
Korban Pembacokan Satu Keluarga di Panakkukang Jalani Operasi di RS Berbeda
Tiga korban pembacokan satu keluarga yang dilakukan lelaki berinisial DL (55) di Kecamatan Panakkukang telah menjalani operasi di rumah sakit berbeda di Kota Makassar. FOTO: iNews TV.

MAKASSAR - Tiga korban pembacokan satu keluarga yang dilakukan lelaki berinisial DL (55) di Kecamatan Panakkukang telah menjalani operasi di rumah sakit berbeda di Kota Makassar. AL (62) mertua laki-laki pelaku ditangani di Rumah Sakit Ibnu Sina, sementara istri pelaku SF (30) dan mertua perempuan DL yaitu SL (60) dirujuk di RS Dadi.

Tiga korban pembacokan satu keluarga tersebut sebelumnya ditangani di RS Ibnu Sina. Mereka dibawa pihak keluarga tidak lama setelah insiden berdarah terjadi, Jumat, (23/102020) sekitar pukul 12.45 Wita di Jalan Barawaja. Parahnya kondisi luka para korban sempat membuat kewalahan petugas medis.



Kasubag Humas dan Pemasaran RS Ibnu Sina, dr Hj Nurhidayat mengaku kurangnya sumber daya manusia khususnya Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) yang saat itu hanya satu orang jadi soal. Padahal para korban sudah banyak mengeluarkan darah akibat luka parah yang diderita.

"Dokter spesialis ortopedi yang jadi DPJP, kebetulan hanya satu saja yang jaga. Jadi yang pertama ditangani itu mertua laki-lakinya pelaku. Tapi dokter itu bilang itu yang dua tangani dulu cepat. Jadi kami hubungi dokter (spesialis ortopedi) kami yang kebetulan bertugas di RS Dadi, dr Arman. Beliau (dr Arman) menerima untuk ditangani di sana (RS Dadi)," kata Nurhidayat, kepada Sindonews, Sabtu (24/10).

Baca Juga: Alasan Positif COVID-19, 2 Korban Pembacokan Diduga Tak Ditangani dengan Baik oleh Rumah Sakit

Dia menjelaskan SL lebih dulu dirujuk ke RS Dadi sekitar pukul 22.00 Wita, karena kondisi mertua pelaku itu sudah dianggap tepat untuk dipindahkan ke rumah sakit lain. Sementara SF, menyusul 12 jam kemudian, karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk dirujuk. Nurhidayat bilang, istri pelaku kala itu mengalami pendarahan hebat.

"Jadi Sabtu siang baru kita rujuk, kondisinya saat itukan pendarahan sampai hemoglobin (Hb) 5. Normalnya itu Hb 10 baru bisa dirujuk. Tapi keduanya langsung dioperasi semua begitu sampai sana. Karena ketika kita lakukan proses Sisrut (sistem rujukan terpadu) kami maksimalkan permintaan hasil-hasil pemeriksaan awal di Ibnu Sina, jadi begitu sampai langsung dikerja (operasi)," terang dr wanita itu.



Nurhidayat membantah tudingan pihak keluarga korban yang menganggap pihaknya enggan mengoperasi SL dan SF karena terindikasi Covid-19 melalui tes cepat atau rapid test. Kata dia setiap pasien yang masuk ke RS Ibnu Sina dan RS di seluruh Indonesia pada umumnya memang harus melewati prosedur pemeriksaan cepat virus menular itu.

"Kami tidak tolak atau tidak mau operasi karena reaktif. Tapi memang kondisi para korban ini sangat parah ditambah sarana dan prasarana kami terbatas. Kami juga tidak mau asal kerja, apalagi kondisi korban-korban memang sangat kritis, banyak kehilangan darah. Kita juga khawatir kalau fisik mereka melemah lalu mengambil tindakan operasi," ucapnya.

Baca Juga: Karaoke di Pesta Pernikahan di Majene Berujung Pembacokan

Saat ini kondisi AL, Kata Nurhidayat, masih dirawat intensif di Ruang IGD RS Ibnu Sina, kondisinya berangsur pulih, "Kalau yang dua saya tidak bisa jelaskan persis, tapi informasinya masih dalam perawatan setelah menjalani operasi. Kalau yang agak mendingan itu mertua laki-laki. Kalau yang parah itu istrinya pelaku, banyak otot yang putus, malah ada yang kena tulangnya. Untuk mertua perempuannya mungkin pihak RS Dadi yang jelaskan," pungkasnya.

Sebelumnya, pihak keluarga korban sempat menyayangkan sikap RS Ibnu Sina, yang dianggap lamban dalam menangani pasien. Karena SL dan SF reaktif melalui rapid test. Sementara AL nonreaktif. Kekesalan tersebut disampaikan Herawati, sepupu SF. Dia bilang, sepatutnya tim medis lebih mendahului urgensitas pasien ketimbang status reaktifnya.

"Tapi reaktif itu langsung divonis dia Covid-19 dari pihak RS Ibnu Sina. Saya telepon pegawainya dia bilang tidak bisa kami sebut alasannya tapi dia bilang itu rahasia rumah sakit. Saya juga anggota Satgas Covid di Papua. Saya sayangkan, jangan dibilang gara-gara Covid-19, pasien kritis ini diacuhkan," kata Herawati, kepada Sindonews.

Baca Juga: Pakai Celana SMK Milik Kakak, Bocah SD Jadi Korban Pembacokan



(agn)

preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!