alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Bupati Diminta Turun Tangan Soal Dugaan Mutasi Tak Prosedural

Fitra Budin
Bupati Diminta Turun Tangan Soal Dugaan Mutasi Tak Prosedural
ASN YANG DIMUTASI. Persatuan Jurnalis Luwu Timur (PERSS Lutim) mendesak Bupati Luwu Timur untuk turun tangan menyelesaikan kasus mutasi tiga ASN yang diduga tidak sesuai prosedur. Foto: Fitra Budin/SINDOnews

LUWU TIMUR - Persatuan Jurnalis Luwu Timur (PERSS Lutim) mendesak Bupati Luwu Timur untuk turun tangan menyelesaikan kasus mutasi tiga ASN yang diduga tidak sesuai prosedur.

Nasthan Yan, Ketua PERSS Lutim, mengaku prihatin dengan adanya kasus tersebut. Dia berharap agar persoalan pribadi jangan dikaitkan dengan pekerjaan.

Nasthan juga berharap, semoga mutasi tiga ASN itu, mengikuti prosedur administrasi yang diberlakukan disetiap daerah, seperti adanya nota ajuan pengusulan mutasi ASN dari kepala dinas.



"Kami juga berharap agar Bupati Luwu Timur yang notbenenya sebagai Kepala Daerah, sebisanya turun tangan untuk menegahi permasalahan ini," ujarnya, Sabtu (9/2/2019).

Jika mutasi dilakukan karena kuatnya jaringan seseorang dengan pejabat, dikhawatirkan ASN yang sama sekali tidak memiliki jaringan akan ketakutan dan merasa tidak berdaya.

Terpisah, tiga ASN Luwu Timur yang diduga menjadi korban mutasi karena terlibat cekcok dengan Kiki, istri Kepala BKPSDM Lutim, Kamal Rasyid, mengaku baru akan melapor di tempat kerja yang baru, di Puskesmas Lampia dan Lakawali.

Ketiganya yakni Nurlaela (Bidan), Astriani Raoda (Perawat) dan Asriyanti (Apoteker).

Meski demikian, Nurlaela mengaku masih berharap mutasi tersebut dapat dibatalkan. Terlebih dia merasa tidak melakukan pelanggaran di tempat tugasnya yang lama.

“Nanti pi setelah kami cekcok, beberapa hari kemudian keluar surat mutasi. Itupun saya ji yang ditemani cekcok, tapi kenapa dua temanku juga ikut dimutasi,” paparnya.

Dia mengaku, sikap arogansi, Kiki, Istri dari Kepala BKPSDM bukan kali pertama terjadi di Puskesmas Malili.

“Kalau di Puskesmas Malili, Ibu Kiki sering sekali terlibat cekcok dengan pegawai. Suka mengancam mau mutasi orang. Mungkin, semua diperlakukan begitu dan barulah kami yang bersuara,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Puskesmas Malili, Benny mengakui sejauh ini belum pernah mengusulkan mutasi pegawai. Meski memang, sejak dulu di Puskesmas Malili rasio jumlah pegawai cukup besar mencapai 200 orang lebih.

“Dinkes sudah tahu kalau kami memang kelebihan pegawai, tapi sejauh ini saya tidak pernah mengusulkan mutasi pegawai. Saya tahu ada mutasi,saat pegawai melapor kalau didipindahkan,” paparnya saat dihubungi.



(kem)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
sindonews ads