alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Sambut Musim Panen, Warga Galeso Gelar Tradisi Mappadendang

Asrianto Suardi
Sambut Musim Panen, Warga Galeso Gelar Tradisi Mappadendang
Warga Desa Galeso Kabupaten Polman Sulawesi barat, saat menggelar tradisi Mappadendang jelang musim panen. Foto: Asrianto Suardi/SINDOnews

POLMAN - Jelang musim panen, petani di Dusun II, Desa Galeso, Kecamatan Wonomuyo, Polewali Mandar, menggelar tradisi Mappadendang, Senin (11/2/2019).

La Rammang, tokoh adat yang dituakan di kampung tersebut mengatakan, tradisi ini telah dilakukan sejak dahulu secara turun temurun. Tradisi ini dilakukan setiap setahun sekali dan digelar selama dua hari dua malam.

"Ini sudah lama seperti ini, setiap setahun kami gelar. Siang malam kami gelar Mappadendang," katanya.



Kegiatan itu diawali dengan membacakan doa keselamatan, yang dilakukan oleh seorang tokoh adat. Sambil membacakan doa mereka juga membakar dupa atau kemenyan.

Sejumlah makanan juga dihidangkan di nampan (baki) yang terdiri dari beras ketan (sokko'), pisang, ayam dan menu makanan lainnya.

Budaya Mappadendang merupakan salah satu tradisi unik yang dilakukan oleh suku Bugis saat menyambut maupun usai panen padi.

Tradisi Mappadendang ini digelar sebagai wujud rasa syukur kepada sang Pencipta atas limpahan rezeki dan hasil panen padi yang diperoleh.

Mappadendang ini dilakukan oleh beberapa wanita dan laki-laki yang mengenakan pakaian adat. Mereka secara bergantin memukul lesung menggunakan alu, sehingga menciptakan irama yang sinkron/serasi antara tumbukan yang satu dengan yang lainnya.

Alat yang digunakan yaitu berupa sebuah lesung yang besar dan panjang serta beberapa alu digunakan untuk menumbuk pada masing-masing orang yang terlibat di dalamnya.

Selain bentuk suka cita, ritual mappadendang juga dimaksudkan untuk mempertahankan warisan budaya leluhur yang dikhawatirkan makin ditinggalkan generasi muda. Kepekaan warga Galeso dalam menjaga budaya para leluhurnya, memang masih sangat kental.

Irwan tokoh pemuda setempat mengaku sangat kagum terhadap warga setempat yang masih mempertahankan tradisi dan warisan leluhur mereka. Sebab sudah jarang daerah yang melakukan tradisi seperti ini, ditengah jaman yang sudah modern.

"Ini menarik sekali, sebab sudah jarang dilakukan oleh warga," katanya.

Irwan berharap, agar tradisi ini terus dan tetap dilestarikan agar anak cucu dan generasi penerus bangsa bisa melihat proses menumbuk padi secara tradisional.

"Ini bisa jadi pelajaran bahwa beginilah proses dahulu jika ingin menggiling padi," terangnya.



(agn)

Berita Terkait
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
sindonews ads