alexametrics
more

Terdakwa Pembakaran Rumah Divonis Mati, LBH: Pelanggaran HAM

Mustafa Layong
Terdakwa Pembakaran Rumah Divonis Mati, LBH: Pelanggaran HAM
Dua terdakwa kasus pembakaran rumah yang menewaskan satu rumah di Jalan Tinumbu, Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo, Makassar, divonis mati pada sidang putusan di PN Makassar, Kamis (11/04/2019) kemarin. Foto: Ilustrasi/SINDOnews

MAKASSAR - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar angkat bicara terkait dengan vonis mati dua terdakwa kasus pembakaran rumah yang menewaskan satu rumah di Jalan Tinumbu, Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo, Makassar.

Vonis hukuman hati kedua terdakwa dibacakan pada sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Kamis (11/04/2019) kemarin. Kedua terdakwa masing-masing Muhammad Ilham alias Ilho (23) dan Sulkifli Amir alias Ramma (22).

(Baca juga: Dua Terdakwa Pembakaran Rumah di Tinumbu Dituntut Hukuman Mati)



Atas vonis mati tersebut, LBH menganggap itu merupakan bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang paling fundamental dan tak menyelesaikan masalah.

"Hak hidup adalah hak paling fundamental yang dimiliki manusia dan tidak dapat dicabut dengan alasan apa pun. Kalau bicara kejahatan sangat berat yang bisa ditolerir adalah hukuman seumur hidup," pungkas Direktur LBH Makassar, Haswandi Andi Mas, Jumat (12/04/2019).

Menurutnya, hakim cukup menjatuhkan vonis penjara 20 tahun atau seumur hidup kepada kedua terdakwa.

Hukuman mati kata Wawan sapaan Haswandi selama ini dianggap tidak juga menjadi efek jera untuk pelaku kejahatan. Justru hukuman maksimal 20 tahun penjara atau seumur hidup lebih ampuh menimbulkan efek jerah.

Bukan itu saja, LBH Makasar menilik, pada kasus pembunuhan enam keluarga di Tinumbu itu sangat erat kaitannya dengan peredaran narkoba. Dengan kaitan itu, alasan yang lebih mendasar masih menjadi tugas rumah kepolisian maupun pengadilan.

Sebab, justru hukuman mati memutus rantai pengusutan terhadap banyaknya jaringan besar yang bermuara kepada terdakwa.

Bukan itu saja Wawan menilai banyak pelaku sindikat besar narkoba tak diusut tuntas hingga persidangan sebab lebih dulu meninggal dunia.

Salah satu contoh Akbar Ampuh yang tewas diduga bunuh diri dalam sel Lapas Klas I Gunung Sari Makassar setelah dinyatakan paling bertanggungjawab atas kasus pembunuhan ini.

Padahal keselamatan pelaku intelektual dider kasus itu merupakan tanggung jawab otoritas lapas.

Bahkan tak sedikit tersangka kasus narkoba jaringan besar yang ditangkap. Justru lebih dulu dieksekusi dengan dalih perlawanan saat penangkapan.

"Hampir semuan kasus besar dan bagian sindikat narkoba di Makassar hampir semua tidak jadi dipersidangkan, seperti Cullang (Ruslan) yang ditembak mati padahal dia bisa ditangkap dan diperiksa untuk mengetahui jaringannya," tandas Wawan.



(bds)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif