alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Bupati Enrekang Harap Minat Baca Masyarakat Meningkat

Aris Bafauzi
Bupati Enrekang Harap Minat Baca Masyarakat Meningkat
Kepala Perpustakaan Republik Indonesia, Syarif Bando didampingi Bupati Enrekang Muslimin Bando membuka secara resmi launching Perpustakaan e-Digital Enrekang, di Resting House, Anggeraja, Kamis (14/12/2017). Foto : Aris Bafauzi/SINDOnews

ENREKANG - Kepala Perpustakaan Republik Indonesia, Syarif Bando didampingi Bupati Enrekang Muslimin Bando membuka secara resmi launching Perpustakaan e-Digital Enrekang, di Resting House, Anggeraja, Kamis (14/12/2017).

Acara yang bertema "Implementasi Revolusi Mental" melalui gerakan nasional gemar membaca dalam rangka meningkatkan indeks literasi masyarakat, Muslimin Bando berharap minat baca masyarakat khususnya pelajar makin meningkat.

Apalagi buku-buku bacaan telah mudah diakses di media telepon seluler atau handphone. "Ini suatu kemajuan bagi masyarakat Enrekang dalam menuju Kabupaten literasi, pemerintah mengapresiasi launching perpustakaan digital elektronik Enrekang," ujar Muslimin Bando.

"Dan harapan kita, masyarakat yang kini banyak beraktivitas lewat dunia digital, mudah mengakses bacaan yang bermanfaat," sambungnya.

Dalam kesempatan ini juga, Kepala Perpustakaan Republik Indonesia Syarif Bando memberikan motivasi kepada para pelajar yang turut serta hadir.

Dia mengajak mereka membiasakan membaca buku sekurang-kurangnya 15 menit setiap harinya. Karena baginya negara maju bukan karena sumber daya alamnya, namun juga karena dipicu oleh sumber daya manusianya yang cerdas.

"Contoh Singapura mereka tak punya lahan untuk menanam tapi kenapa bisa maju, itu karena mereka menggenjot pendidikan yang baik. Hasilnya mereka lebih menguasai dunia ini dibanding Indonesia. Namun jika Indonesia bangkit, dan mengolah sumber daya alam dengan teknologi dari anak anak bangsa. Pastilah Indonesia akan jadi super power," terangnya.

Syarif juga menyesalkan sistem pendidikan di Indonesia yang menetapkan rangking kelas. Baginya itu hanya menjadikan jurang pemisah diantara para pelajar.

"Contohi pendidikan seperti di Korea, mereka mendapat nilai bukan dari bagaimana mereka mengetahui jawaban pertanyaan guru, namun mampu menjelaskan atau memahami makna dari pertanyaan dan jawaban itu sendiri. Karena dari sebuah pertanyaan mengandung banyak jawaban dan anak Indonesia belum mampu untuk itu," tutup Syarif Bando.



(bds)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
sindonews ads