alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Sindikat Transaksi Kenaikan Pangkat Terungkap, Dua Guru Gowa Dibekuk

Herni Amir
Sindikat Transaksi Kenaikan Pangkat Terungkap, Dua Guru Gowa Dibekuk
Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga. Istimewa

SUNGGUMINASA - Dua guru SMK dari dua sekolah berbeda di Kabupaten Gowa dibekuk aparat Kepolisian Resort (Polres) Gowa. Mereka ditangkap karena terlibat transaksi kenaikan pangkat di kalangan pendidik.

Kedua guru itu masing-masing AJ (32 tahun) berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan HSW (37 tahun) yang masih merupakan guru honorer.

Kapolres Gowa AKBP Shinto Silitonga mengatakan, keduanya melakukan tindakan mencari uang dengan memanfaatkan persyaratan kenaikan pangkat bagi guru yang sebenarnya sudah memenuhi kualifikasi untuk diproses.



Persyaratan itu pembuatan karya ilmiah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dihargai Rp2 juta per satu PTK sampai penilaian kualifikasi guru (PKG)

"Jadi modus yang mereka lakukan, guru pemohon yang ingin naik pangkat tidak diproses jika tidak melalui sindikasi ini. PTK diabaikan dan mereka diarahkan menggunakan jasa dua guru ini," jelas Shinto saat menggelar jumpa pers, Rabu (15/05/2019).

Menurut Shinto, kedua oknum guru ini menyanggupi membuat PTK hingga mengurus kenaikan pangkat guru terkait dengan sejumlah rupiah tertentu.

Parahnya lagi, kedua guru mebuat PTK dengan cara plagiat atau mengcopy paste hasil karya tulis yang ada diinternet lalu dimodifikasi.

"Kami sangat mengapresiai guri WS yang berani melaporkan hal ini sehingga ini bisa diungkap," tambah Kapolres.

Saat ini keduanya dijerat dengan Undang-Undang Sisdiknas yakni UU No 20/2003 dilapis UU No 28/2014 tentang hak cipta.

Sebagai barang bukti penyidik juga telah menyita uang, laptop, karya tulis hasil plagiarisme, printer, dan beberapa lembar dokumen penilaian kualifikasi penilaian guru.

Sementara itu Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pusat Ramli Rahim mengatakan fenomena transaksi kenaikan pangkat ini hampir terjadi di semua kabupaten di Sulsel dan biasanya terjadi di jenjang paling bawah yakni SD dan SMP.

"Dulu kita pikir guru-guru tidak bisa buat PTK sehingga dimana-mana kita buat pelatihan karya ilmiah. Tapi tidak berdampak banyak. Jarang guru ikut pelatihan. Ternyata dari kasus ini terungkap, meskipun mereka ikut, hasilnya tetap tidak diterima," tukasnya.



(sss)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
sindonews ads