alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Lewat Pentas Seni 'Mai Ki Mirundu', IPMIL Tampar Wajah Pemerintah

Chaeruddin
Lewat Pentas Seni Mai Ki Mirundu, IPMIL Tampar Wajah Pemerintah
Pengurus Pusat PP IPMIL suksek menggelar pentas seni budaya di Pelataran Simpurusiang, baru-baru ini. Foto: Chaeruddin/SINDOnews

BELOPA - Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Mahasiswa Indonesia Luwu (IPMIL) sukses menggelar pentas seni dan budaya dengan mengusung tema "Mai Ki Mirundu" di Pelataran Simpurusiang, baru-baru ini.

Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Ulvha Riska Safitri, pentas seni ini sengaja digelar mengingat masuknya perkembangan budaya asing yang sudah mempengaruhi budaya Indonesia, khususnya di Tana Luwu.

"Kebudayaan di Tana Luwu telah tersesat. Kita perlahan dikuasai budaya asing, sehingga ini harus menjadi perhatian kita bersama untuk kembali menanamkan budaya orang Luwu, mengembalikan nilai-nilai kearifan lokal kita kembali tumbuh di tengah-tengah masyarakat," kata Ulvha yang juga ada Ketua Bidang Pariwisata PP IPMIL Luwu, Minggu (16/06/2019).



"Kegiatan ini merupakan salah satu upaya mendorong kembali pengenalan budaya kita," lanjutnya.

Pada kegiatan ini, PP IPMIL menampilkan beberapa item acara, diantaranya tari tradisional, tari kontemporer, puisi, musikalisasi puisi, akustik, dan teatrikal puisi.

Kegiatan ini pun tanpa disadari menampar muka pemerintah. Suskesnya kegiatan ini juga tanpa bantuan dari pemerintah. Melainkan dari kantong sejumlah mahasiswa yang prihatin dengan kebudayaan Luwu saat ini.

"Pemuda Luwu selalu dijebak didalam ruang-ruang diskusi mengenai politik, padahal sebenarnya yang pemuda butuhkan adalah wadah eksperesi dan menyampaikan pendapat lewat karya seni dan mewarisi budaya-budaya Luwu," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Umum PP IPMIL, Muhammad Reski Sujono, menyampaikan jika Tana Luwu sebagai kerajaan tertua di Sulsel yang mewariskan budaya I La Galigo.

"Harusnya Tana Luwu sudah dikenal sampai macanegara lewat warisan budaya I LA GALIGO, karena kitab tersebut berasal dari Tana Luwu yang juga sudah diakui UNESCO sebagai kitab terpanjang mengalahkan mahabrata. Warisan ini sangat jarang masyarakat Indonesia dan mancanegara mengetahui bahwa ini berasal dari Tana Luwu," terang dia.

Dia pun berharap kepada pemerintah untuk terus memperhatikan kebudayaan lokal tanpa mengesampingkan pembangunan daerah.

"Kegiatan kami ini pula merupakan jalan panjang menuju Pagelaran Seni dan Budaya yang akan di laksanakan bulan Desember 2019 selama 3 hari mendatang. Kegiatan tersebut mengambil tema "PAPPASANG," kunci Reski Sujiono.



(bds)

loading...
Berita Terkait
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook