alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Cegah Abrasi, Tanggul Pemecah Ombak Pesisir Pantai Mampie Dibangun

Asrianto Suardi
Cegah Abrasi, Tanggul Pemecah Ombak Pesisir Pantai Mampie Dibangun
Tahap kedua pembangunan tanggul pemecah ombak di Pesisir Mampie mulai dibangun. Foto: Sindonews/Asrianto Suardi

POLMAN - Pembangunan proyek Tanggul Pemecah Ombak (TPO) tahap kedua sebagai penahan abrasi di pantai Mampie Desa Galeso Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polman mulai dikerjakan.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk mencegah abrasi di Dusun Mampie yang telah mengikis puluhan meter daratan pantai Mampie.

Proyek Balai Wilayah Palu, Sulteng, ini dikerjakan CV Triga Cipta Abadi, yang berasal dari Makassar. Proyek penahan abrasi tersebut berdasarkan papan proyek dianggarkan sebesar Rp7.428.419.000 dengan waktu pelaksanaan 300 hari kalender atau hingga bulan Oktober 2019. Dua titik pembangunan tanggul penahan abrasi ini berada di lokasi yang berdekatan.



Terkait masalah batu gajah yang digunakan, pelaksana proyek, Reski mengatakan, tetap menggunakan batu gajah akan tetapi batu gajah tersebut bukan berdasarkan ukuran tapi berdasarkan dari beratnya. Penggunaan batu berukuran kecil hanya digunakan sebagai pengancing saja dibagian pinggir.

"Tetap kita pakai batu gajah. Hanya, batu kecilnya kita gunakan sebagai pengancing karena tidak mungkin juga menggunakan batu besar semua," jelasnya, Selasa, (18/6/219).

Reski menjelaskan, memang dalam spesifikasi kontrak tidak ada penggunakan batu breker. Namun secara tekhnis, ini merupakan metode atau cara yang digunakan oleh pelaksana proyek, sebagai pengancing dan pengunci supaya bangunannya kuat dan padat.

"Kalau kami gunakan batu gelondongan besar semua, pasti banyak ruang dan kosong. Itulah sebabnya sebagai pengisi celah kami gunakan baru yang telah di pecah," katanya.

"Bisa dilihat dan hitung persentasenya, kami lebih banyak gunakan batu besar daripada batu kecil," sambungnya.

Konsultan proyek TPO Mampie Mawardin membenarkan jika batu yang paling banyak digunakan adalah batu yang berasal dari Sekka-sekka, Kecamatan Mapilli, Kendati demikian, pihaknya juga tetap menggunakan batu gajah yang sudah terbentuk secara alami.

"Yang disini (tahap II) ini kita lebih banyak menggunakan batu yang terbentuk secara alami disana dibandingkan dengan di tahap pertama yang telah selesai dikerjakan karena pada pekerjaan tahap pertama volumenya memang lebih kecil dibanding yang kedua" terang Mawardin.

Ia menambahkan, kedua pekerjaan ketinggiannya sama yakni dengan elevasi dua. Proyek APBN tersebut juga menggunakan timbunan tanah pada bagian tengah, Mawardin juga menyampaikan jika hal itu dilakukan karena untuk pembuatan jalan yang akan dilalui alat berat. "Tapi setelah dirampungkan tanahnya akan disiram," beber Mawardin.



(agn)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook