alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Eks Panglima Laskar Jihad Minta Penangguhan Penahanan

Vivi Riski Indriani
Eks Panglima Laskar Jihad Minta Penangguhan Penahanan
Eks Penglima Laskar Jihad Indonesia Jafar Umar Thalib menghadiri sidang di Pengadilan Negeri (PN) Makassar. Foto: Sindonews/Muchtamir Zaide

MAKASSAR - Eks Panglima Laskar Jihad Indonesia, Jafar Umar Thalib melalui penasehat hukumnya meminta penangguhan penahanan kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Makassar.

Jafar Umar Thalib didudukkan sebagai terdakwa atas kasus pengrusakan rumah milik Henock Niki di Jalan Protokol Koya Barat, Distrik Muara Tami, Jayapura pada 27 Februari 2019 lalu.

Penasehat Hukum Jafar Umar Thalib, Achmad Machdan mengatakan, penangguhan penahanan atas kliennya diajukan dengan alasan kesehatan.



Mengingat saat ini terdakwa ditahan di Rutan Polda Sulsel dengan kondisi yang sangat tidak memungkinkan untuk kesehatannya.

"Beliau sedang menderita sakit jantung. Selama ini beliau ditahan di Polda, kita lihat begitu sesak dan itu sangat mengganggu kesehatannya. Jadi kita minta ustad ini bisa menjadi tahanan kota," kata Achmad.

Achmad menegaskan kliennya tidak akan melarikan diri ataupun melakukan tindak pidana yang akan melanggar hukum sehingga proses persidangan berjalan sebagaimana mestinya.

"Kami menjamin proses persidangan tidak terganggu, yang menjamin bisa istrinya dan kami penasehat hukumnya juga siap," ucapnya.

Atas dakwaan jaksa penuntut umum (JPU), terdakwa melalui penasehat hukumnya mengaku tidak keberatan dan tidak akan mengajukan eksepsi. Selanjutnya, sidang akan kembali digelar Kamis 27 Juni 2019, pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

"Terdakwa tidak mengajukan eksepsi untuk mempercepat proses persidangan," singkat Penasehat Hukum Terdakwa, Achmad Michdan, ucapnya.

Dengan tidak diajukannya eksepsi, Achamd berharap agar proses persidangan bisa secepatnya selesai. Terlebih kasus yang mendudukan Jafar bersama enam pengikutnya ini hanyalah perkara tindak pidana biasa.

Dimana pada saat kejadian, Jafar Umar Thalib sedang melakukan tausiah di salah satu masjid yang tidak jauh dari rumah korban di Jalan Protokol Koya Barat, Distrik Muara Tami, Jayapura pada 27 Februari 2019 lalu.

"Tapi mereka itu merasa terganggu dengan diputarnya lagu-lagu rohani, dan itu pagi hari yang mana toanya itu mengganggu betul sehingga ditegur," tuturnya.

Berkaitan dengan senjata tajam, Acmad tidak menapik adanya benda itu. Hanya saja, senjata tajam berupa pedang samurai itu digunakan untuk memutus kabel spiker milik korban Henock Niki.

"Itukan digunakan tidak untuk melakukan kepada orang yang melakukan gangguan itu, tapi kepada alatnya," ucapnya.

Dalam dakwaan primair, JPU mendakwa Jafar Umar Thalib dengan Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951 tentang senjata api, amunisi, bahan peledak, senjata pemukul, senjata penikam, senjata penusuk. Sedangkan dakwaan subsidair, terdakwa didakwa Pasal 170 Ayat (1) KUHP tentang pengrusakan.

"Tadi pembacaan dakwaan yaitu Undang-Undang Darurat dan Pasal 170 KUHP. Kalau undang-undang darurat itu ancaman pidananya maksimal 10 tahun penjara, kalau Pasal 170 KUHP itu 5 tahun 6 bulan hukumannya," kata Moh Iryan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Agung RI, usai persidangan.

Selain Jafar Umar Thalib, enam pengikutnya juga didudukkan sebagai terdakwa dalam perkara tersebut. Meraka adalah Abdullah Jafar Umar Thalib, Subagiyo alias Abu Yahya, Abdul Rahman, Ihsan Jayadi, Anas Rikmawan, dan Mujahid Mursyid.



(agn)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook