alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Rencana Donald Trump untuk Ekonomi Palestina-Israel Tak Direspon

Tim Sindonews
Rencana Donald Trump untuk Ekonomi Palestina-Israel Tak Direspon
Rencana ekonomi sebagai fondasi perdamaian Israel-Palestina yang digadang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tak mendapat respon oleh negara-negara Arab termasuk Palestina. Foto : Istimewa

MANAMA - Rencana ekonomi sebagai fondasi perdamaian Israel-Palestina yang digadang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tak mendapat respon oleh negara-negara Arab termasuk Palestina.

Palestina dan banyak negara Arab mengabaikan rencana tersebut karena mengabaikan solusi politik untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berabad-abad.

Direktur Operasional Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mengungkapkan konflik di banyak negara menunjukkan kesulitan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Baik Israel maupun Palestina tidak menghadiri konferensi yang digelar pada Selasa malam (25/6) lalu. Berbeda sikap dengan Palestina, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, mengungkapkan pihaknya terbuka dengan proposal tersebut.



Di Gaza, kelompok pejuang Palestina, Hamas, dan rivalnya, gerakan Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas menggelar aksi untuk menolak konferensi yang berlangsung di Manama, Bahrain. Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mengkritik negara Arab yang berpartisipasi dalam acara tersebut. Dia mengungkapkan, konferensi tersebut bertujuan untuk mengakhiri konflik Palestina dengan keuntungan ekonomi dan keuangan.

“Rakyat Palestina, yang telah bertempur selama seratus tahun, tidak akan menyerah kepada orang atau menawar. Yerusalem adalah milik kita, tanah ini adalah milik kita, dan segalanya adalah milik kita,” kata Haniyeh dilansir Reuters. Presiden Abbas mengungkapkan konferensi di Manama tidak akan sukses.

"Kita tidak akan menjadi budak atau pelayan bagi (Utusan Khusus Trump untuk negosiasi internasional) Jason Greenblatt, Kushner, dan (Duta Besar AS untuk Israel) David Friedman," katanya kepada jurnalis di Ramallah. Dia mengungkapkan, Palestina memang membutuhkan bantuan ekonomi, uang dan pendampingan. "Tapi sebelumnya terjadi, perlu solusi politik," katanya.

Proposal itu termasuk investasi senilai USD50 miliar untuk Palestina dalam kurun waktu 10 tahun. Rencana ekonomi berjudul "Perdamaian menuju Kesejahteraan" menawarkan kerangka untuk masa depan Palestina yang lebih sejahtera. Kushner meyakini pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan tidak bisa terwujud tanpa solusi politik yang adil terhadap konflik Israel dan Palestina.

Rencana tersebut memiliki penjelasan detail tentang berbagai proyek yang akan dilaksanakan. Itu termasuk membuka Jalur Barat dan Gaza ke pasar regional dan global. Itu termasuk proposal membangun koridor transportasi untuk Palestina dengan teritorial lainnya, baik jalur jalan dan kereta api dengan nilai proyek senilai USD5 miliar.

Kemudian, proyek untuk meningkatkan dan membangun jaringan listrik, air, dan telekomunikasi untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi. Ada juga proyek untuk mendukung pertumbuhan kewirausahaan, bisnis skala kecil dan menengah, pariwisata, pertanian, perumahan, dan industri. Rencana ekonomi memperkuat pembangunan regional dan integrasi untuk memperkuat ekonomi Mesir, Israel, Yordania, dan Libanon.

“Visi ekonomi itu berkaitan untuk menyelesaikan seluruh konflik. Itu tidak akan membawa rakyat Israel dan Palestina semakin dekat. Karena itu, saya tidak optimistis dengan renca yang bisa diwujudkan secepatnya,” kata Mokovsky. Sementara itu, Oman kemarin menegaskan akan membuka misi diplomasi di Tepi Barat yang diduduki Israel.



(sss)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook