alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

DPRD Polman Gelar RDP Kedua, Juara Karate Tetap Tidak Naik Kelas

Asrianto Suardi
DPRD Polman Gelar RDP Kedua, Juara Karate Tetap Tidak Naik Kelas
DPRD Polman kembali menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) membahas siswa SMPN 3 Polewali peraih juara karate yang tidak naik kelas, Rabu (10/07/2019). Foto: Asrianto Suardi/SINDOnews

POLEWALI - Komisi IV DPRD Kabupaten Polman kembali menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP), Rabu (10/07/2019). Hasil dari RDP kedua tersebut tidak bisa membantu Arya Muddatzir untuk naik kelas.

Pada RDP ini turut menghadirkan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Polman, Hamka, Kepala SMP Negeri 3 Polewali, Syamsir Muchtar dan beberapa guru lainnya. Turut hadir Ketua Harian KONI Polman, Jamar Jasin Badu dan orangtua Arya, Armansyah.

Armansyah harus pasrah atas putusan yang dihasilkan pada RDP tersebut. (Baca juga: Hanya Karena Ikuti Lomba, Juara Karate Internasional Tinggal Kelas)



"Keputusan ini sangat menyakitkan kami, se-ikhlas apa pun kami menerimanya tetap akan menyimpan rasa sakit bagi kami. Namun ini akan menjadi PR kami untuk mengembalikan kondisi psikis dan psikologi anak kami," tuturnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 3 Polewali, Syamsir Muchtar menjelaskan bahwa Arya bukan juara karate tingkat internasional, akan tetapi hanya juara nasional O2SN.

"Yang juara internasional itu bukan Arya, tapi kakaknya. Kalau Arya kami akui memang juara nasional O2SN," bebernya.

Lebih lanjut kata dia, berdasarkan hasil keputusan dewan guru, maka Arya tidak dapat naik kelas. Meski demikian, Arya tetap diperbolehkan mengikuti O2SN tingkat nasional yang akan dilaksanakan pada Agustus mendatang.

"Jika kita naikkan akan membawa preseden buruk dan bisa jadi akan berkelahi dengan temannya jika ada yang mengejek. Keputusan ini melalui rapat dan berdasarkan pertimbangan," pungkas Syamsir.

Sedangkan, Sekretaris Disdikbud Polman, Hamka menyayangkan kabar tersebut yang bukan hanya menjadi konsumsi masyarakat Polman namun sudah mencuat ke nasional.

"Jika memang tinggal kelas ini bukan akhir segalanya tapi dapat menjadi pelajaran bagi anak ini agar lebih baik lagi," tandasnya.

Dia menegaskan jika penilaian sikap dan akhlak siswa merupakan kewenangan guru dan wali kelas. Sementara penilaian ujian merupakan hak dewan guru.

Terpisah, Ketua Harian KONI Polman, Jamar Jasin Badu menilai keputusan pihak sekolah merupakan pelanggaran karena mengabaikan delapan jenis kecerdasan siswa. Salah satunya kecerdasan dalam kinestetik.

Dia juga menegaskan jika pihak sekolah harusnya tidak menyamakan Arya dengan siswa lainnya.

"Arya sedikit nakal itu karena pengaruh kinestetik itu dan murid lainnya tidak memiliki itu namun mungkin ada juga anak lain yang nakal lainnya. Inilah yang tidak dikaji oleh guru dan walinya yang mudah menyerah terhadap kasus seperti Arya," papar dia yang juga anggota DPRD Polman.

Jamar juga meminta kepada dinas terkait untuk memberikan alternatif pendidikan yang terbaik bagi para atlet Polman dalam berbagai bidang olahraga.

"Pada lembar penilaian sikap dan prilaku Arya mendapatkan nilai baik namun menurut kepala SMPN 3 Polewali itu adalah kebijakan yang diberikan sekolah agar dapat diterima di sekolah lain," tutupnya.



(bds)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook