alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Komnas Perempuan Minta Aplikator Ojol Beri Perlindungan Penumpang

Tim Sindonews
Komnas Perempuan Minta Aplikator Ojol Beri Perlindungan Penumpang
Tim Jatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya meringkus Fatchul Fauzi (28), seorang driver ojek online (ojol) yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap penumpangnya. SINDOnews/Lukman Hakim

JAKARTA - Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Perempuan, angkat bicara terkait insiden penumpang wanita ojek online lompat dari motor karena pengemudi diduga melakukan pelecehan seksual di Surabaya, Senin, (12/08/2019) lalu.

“Jadi kalau ada bentuk kekerasan terjadi di ojek online, itu bagian dari kasus yang bisa terjadi di mana saja," kata Komisioner Komnas Perlindungan Perempuan Imam Nahe’i, Selasa 13 Agustus 2019.

Namun demikian ia menjelaskan, namun kejadian tersebut dilakukan oleh pengemudi ojek online yang mitra salah satu aplikator.



"Tetapi catatannya koorporasi ojek online juga harus bertanggung jawab terhadap semuanya itu, sebagai bagian dari sistem perlindungan,” lanjutnya.

Baca Juga : Paha Digerayangi Pengemudi, Penumpang Ojek Online Lompat dari Motor

Adapun dugaan pelecehan seksual tersebut diketahui bermula ketika seorang perempuan muda bernama Belafitria memesan layanan ojek online dari Desa Bungurasih, Waru-Sidoarjo, ke arah Dukuh Kupang, Surabaya, (Senin 12/8).

Dalam perjalanan menuju tujuannya, korban dibawa mitra pengemudi Grab yang berinisial FF itu menuju Sumur Welut. Dalam perjalanan FF yang mengendarai Mio warna merah bercampur putih itu mulai melancarkan aksinya dengan menggerayangi tubuh korban.

Karena merasa takut, korban tanpa menghiraukan keselamatannya, nekat melompat dari motor. Kronologi kasus pelecehan tersebut telah dibagikan via akun Facebook Jemi Ndoen dan menjadi viral ini membagikan foto korban yang tengah duduk di sebuah rumah warga Rusun Sumur Welut yang membantu menyelamatkannya.

Dalam menyelesaikan kasus tersebut, Co-Director Hollaback! Jakarta, Anindya Restuviani menilai pihak aplikator jasa transportasi online harus bekerja sama dengan penegak hukum. Adapun dalam proses penanganan tersebut harus ada keberpihakan kepada korban.

“Pihak aplikator punya kewajiban untuk memberikan pendampingan pada korban baik secara proses hukum maupun pendampingan pemulihan mental,” tandasnya.

Pada April 2019 lalu Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dan Grab Indonesia pernah berkolaborasi untuk mencegah tindak kekerasan seksual terhadap perempuan di Indonesia. Namun, langkah ini belum bisa meredam terulangnya kasus pelecehan seksual oleh oknum mitra Grab.

“Ini mengkhawatirkan sekali. Aku turut sedih dengar cerita ini. Ini menunjukan bahwa kekerasan bener-bener bisa terjadi di mana saja dan dialami oleh siapa aja. Pelaku juga bisa siapa saja; dan sepertinya nggak sekali dua kali ini aja kita dengar ada kejadian ojol yang melakukan pelecehan. Harapannya ini bisa menjadi perhatian ya buat perusahaan ojol untuk bisa melakukan langkah baik pencegahan juga tindak lanjut yang komprehensif,” jelasnya.



(agn)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook