alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Dampak Kemarau di Sulsel, Picu Pencemaran Udara dan Kebakaran

Koran Sindo
Dampak Kemarau di Sulsel, Picu Pencemaran Udara dan Kebakaran
Seorang warga membawa jeriken untuk mengambil air di Kecamatan Bontoa, Maros, beberapa waktu lalu. Foto: SINDOnews/Maman Sukirman

MAKASSAR - Bukan hanya kekeringan, musim kemarau yang melanda sejumlah daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam beberapa bulan terakhir juga menimbulkan berbagai dampak buruk, baik bagi manusia maupun lingkungan.

Kondisi udara di Sulsel mengalami perubahan pada musim kemarau kali ini. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sulsel, Andi Hasbi Nur. Namun menurut dia, perubahan dianggap belum ekstrem dan kondisi udara disebut masih normal.

“Ada titik-titik pantau kami seperti di Makassar. Masih jauhlah dari ambang batas, tapi memang ada peningkatan khususnya debu halus dan kasar,” katanya saat dihubungi lewat sambungan telepon, Senin (27/8/2019).



Hasbi mengemukakan, debu halus kasar tersebut tetap menimbulkan dampak negatif akibat dari kemarau panjang ini. Khususnya dari segi kesehatan.

“Dari segi kesehatan, itu akan menyebabkan penyakit di pernapasan. Bisa juga ke mata iritasi. Selain itu, juga penyakit kulit. Itu kemungkinan dampaknya,” ujar dia.

Kasus kebakaran serta pencemaran udara dari debu terjadi di sejumlah wilayah. Di Kabupaten Gowa, jumlah kasus kebakaran menunjukkan tren peningkatan. Sedangkan warga Kabupaten Maros mengeluhkan debu yang diduga akibat aktivitas tambang.

Puluhan warga Kabupaten Maros di tiga desa menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu masuk pabrik PT Bosowa Semen, kemarin. Warga memblokade akses masuk ke pabrik dengan membakar ban.

Koordinator aksi, Rustam Sahabu mengatakan, aksi yang dilakukan oleh warga ini merupakan bentuk kemarahan warga yang selama ini diperlakukan tidak manusiawi oleh pihak Bosowa. Selama 20 tahun beroperasi di Maros, perusahaan tersebut dituding tidak bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan dan pencemaran udara di wilayah itu.

“Kita lihat saja saat musim kemarau begini. Kami warga di sini sudah kesulitan bernafas karena harus menghirup debu dari cerobong maupun dari truk besar yang lewat. Kami sudah berkali-kali protes, tapi tidak digubris. Makanya kami lakukan aksi ini,” kata Rustam.

Dalam aksi itu, warga menuntut agar Bosowa merealisasikan hasil dokumen rencana pemantauan lingkungan berupa pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga tiga kali sebulan. Melakukan penyiraman sekali sehari dan memberikan konpensasi bagi warga yang terdampak debu pabrik.

Selain itu, mereka juga menuntut agar Bosowa mengurangi efek ledakan yang membuat beberapa rumah warga rusak.

“Selain soal debu dan ledakan, kami juga meminta agar pembuangan limbah B3 ke saluran irigasi dihentikan,” ujarnya.



(man)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif