TOPIK TERPOPULER

Mahasiswi Pascasarjana di Makassar Mengaku Jadi Korban Kekerasan Seksual

Faisal Mustafa
Mahasiswi Pascasarjana di Makassar Mengaku Jadi Korban Kekerasan Seksual
Mahasiswi pascasarjana di Makassar mengaku menjadi korban kekerasan seksual oleh pacarnya yang dikenal lewat sosial media. Foto: Ilustrasi

MAKASSAR - Seorang mahasiswi Pascasarjana berinisial D, (25 Tahun) mengaku menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Ia mengadukan apa yang dialaminya ke Solidaritas Perempuan Anging Mammiri, Kota Makassar.

Staff Kedaulatan Perempuan atas Seksualitas SP Anging Mammiri, Nurfianalisa menjelaskan, pengaduan dan pelaporan diterima pihaknya sejak Jumat, (22/01/2021). Dia menjelaskan D menuduh lelaki berinisial MBA sebagai pelaku.



"Terlapor adalah salah satu aktivis lembaga kemanusiaan di Sulawesi Selatan. Pelaporan korban sementara dikawal SP Anging Mammiri, untuk proses hukum lebih lanjut," ucapnya kepada wartawan di Makassar, Rabu, (27/1/2021).

Baca Juga: PERDIK Dampingi Perempuan Difabel Korban Kekerasan Seksual di Makassar

Nurfianalisa menceritakan kronologis berdasar keterangan pelapor. Kasus tersebut berawal dari perkenalan MBA dengan D pada 28 Maret 2019 lalu di media sosial Facebook.

"Pendekatan diawali dengan memberikan ucapan selamat ulang tahun dan akhirnya dibalas oleh korban," imbuhnya.

Perempuan yang akrab disapa Icha ini menyampaikan sejak saat itu keduanya intens berkomunikasi. Di pekan kedua Juli 2019, terlapor menyatakan perasaan untuk menjalin hubungan dengan pelapor.



"Dia meyakinkan korban dengan mengatakan selama kita pacaran sentuhan fisik hanya sebatas cium pipi dan pegangan tangan. Selanjutnya, korban menerima pelaku sebagai pacarnya," jelasnya.

Sejak pacaran lanjut Icha, pelapor perlahan mengalami perlakuan tidak menyenangkan. Perlakuan seperti pemaksaan untuk melayani hasrat dari terlapor. Sebagian besar perlakuan itu dialami, kata dia, saat pelapor datang ke rumah kos terlapor di kawasan Kecamatan Tamalanrea, Makassar. Pelapor pun kian kecewa, karena menganggap janji saat pertama kali berpacaran dilanggar terlapor.

Baca Juga: Waspada, Dampak Pandemi Picu Kekerasan Seksual terhadap Anak di Rumah

Mulai timbul pertengkaran di antara keduanya. Terlebih paksakan melayani hasrat terus dialami pelapor. Mulai dari oral, kecuali hubungan badan, hingga perkataan sarkastis.

Terlapor, juga pernah meminta pelapor untuk berhubungan intim. Karna desakan itu tidak dilayani, pelapor memutuskan untuk mengakhiri hubungannya.

Namun terlapor tidak memberi respons dan memblokir semua media komunikasinya dengan pelapor. Beberapa hari kemudian pelapor mendatangi kos dan mendapati terlapor bersama perempuan lain.

"Sehingga korban merasa kecewa dan marah. Terlapor kembali memblokir semua media komunikasi korban, namun terus menghubungi korban jika ingin melakukan oral seks," ujar Icha.

Perlakuan dan perkataan kasar, terus memuncak di bulan-bulan berikutnya. Pelapor yang masih merasa kecewa, hanya berupaya meminta pelapor memperjelas huhungan yang dianggap tidak sehat lagi.

Pada, Februari 2020, pelapor mendatangi kos terlapor dengan membawa bukti percakapan dan teror dari pacar terlapor. Di sana pelapor sama sekali tidak mendapatkan kejelasan.

Baca Juga: Berharap Pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Terlapor lanjut Icha, sempat memblokir semua komunikasi karena pelapor menolak melayani keinginannya berhubungan badan. Juli 2020, terlapor katanya bahkan sempat menyabotase sejumlah akun media sosial pelapor.

Akun seperti Instagram hingga Facebook, diikutkan dalam sebuah grup semacam prostitusi online. Pada Agustus 2020, terlapor kemudian, meminta untuk bertemu dengan pelapor di sebuah hotel.

Di sana, pelapor kembali diajak berhubungan badan namun ditolak. "Setelah kejadian itu, korban berusaha untuk menghubungi terlapor, namun dia terus melontarkan bahasa kasar," ujar Icha.

Terakhir keduanya bertemu pada 21 Januari 2021. Pelapor hendak mengklarifikasi soal nomor handphonenyaa yang disebar oleh terlapor.

Karena tidak mendapat jawaban, pelapor kembali mendatangi kos terlapor, keesokan harinya. Tepatnya, 22 Januari. Bukannya mendapat kepastian, pelapor justru kembali dipaksa untuk melayani hasrat terlapor.

Karena menolak, pelapor kembali diperlakukan kasar. Malam harinya, pukul 19.00 WITA, pelapor akhirnya mendatangi kantor PA Anging Mammiri, untuk meminta pendampingan dalam proses perjalanan hukum.

Baca Juga: Inilah Dampak Buruk Kekerasan Seksual seperti Dialami Korban Indrajid, Pelaku Penculikan di Jambi

"Setelah pulang korban bersama adiknya ke Polsek Tamalanrea untuk melapor," imbuh Icha.

Kanit Reskrim Polsek Tamalanre Iptu Muhalis Hairuddin mengaku, sementara mengecek ulang informasi pelaporan yang dilayangkan pelapor.

"Sementara saya cek dulu kalau begitu. Untuk diketahui kapan dan bagaimana perkembangan kasusnya sampai sekarang," tukasnya.



(agn)

preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!