alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Pembangunan PLTSa, Solusi Penanganan Sampah di TPA Antang

Vivi Riski Indriani
Pembangunan PLTSa, Solusi Penanganan Sampah di TPA Antang
Pembangunan PLTSa dinilai bisa jadi solusi penanganan sampah di TPA Antang. Foto: SINDOnews/Muchtamir Zaide

MAKASSAR - Pemerintah berupaya mencari solusi jangka panjang penanganan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Tamangapa atau biasa disebut TPA Antang. Selain mempertimbangkan pembangunan TPA regional Mamminasata, opsi lain adalah membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Penanganan sampah di TPA Antang memang disorot dalam sepekan terakhir. Hal itu menyusul kebakaran yang memicu polusi asap di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Masyarakat mengeluh lantaran asap berbau menyengat dan membahayakan kesehatan menyebar ke kawasan permukiman penduduk.

Pemprov Sulsel dan Pemkot Makassar sendiri sepakat mendorong pembangunan PLTSa di TPA Antang. Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, menegaskan Kota Makassar memang membutuhkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik atau penerapan waste to energy.



“Kalau saya sih bahasakan insinerator, waste to energy. Masa' sebesar Makassar sebagai kota metro, kita nggak punya teknologi waste to energy," kata Nurdin.

Rencana ini, kata Nurdin, sementara dicanangkan Pemkot Makassar yang dikerjasamakan dengan Suitomo Corporation, Jepang. Pembangunan PLTSa di TPA Tamangapa ini juga menjadi bagian solusi jangka panjang mengingat volume sampah yang terlalu besar untuk ditampung disana.

“Kita akan bangun pembangkit listrik tenaga sampah. Kemarin itu udah jalan, sudah mulai feasibility study. Lingkungan kita ini tidak sehat. Makanya kita harus hadirkan pengelolaan sampah yang lebih sehat,” pungkas Nurdin.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Andi Iskandar, mengatakan jika PLTSa sudah beroperasi maka masyarakat tidak perlu khawatir lagi akan bahaya kebakaran yang setiap tahun terjadi di TPA Antang.

Menurut dia, Makassar merupakan satu dari 12 kota di Indonesia yang mendapatkan fasilitas untuk penanganan sampah melalui PLTSa. Itu berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 35/2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

“Kalau PLTSa ini sudah beroperasi maka sampah yang diambil dari masyarakat dimasukkan ke dalam gedung dan di dalamnya ada teknologi insenerator yang akan membakar sampah menjadi energi listrik dan gas,” kata Iskandar.

Rencana pembangunan PLTSa lanjut dia telah berada pada tahap pembahasan pra feasibility study. Selanjutnya, akan dilakukan market sounding untuk memperkanalkan proyek PLTSa TPA Antang kepada seluruh investor agar mau menanamkan modalnya pada akhir September ini.

Jika PLTSa sudah beroperasi, maka pemindahan TPA Antang ke TPA Regional Mamminasata yang sudah direncanakan sejak 2007 lalu dinilai tidak perlu. “Kalau PLTSa jalan TPA kita tetap di Antang karena sampah akan diolah dan tidak ditumpuk seperti sekarang. Jadi tidak mengganggu masyarakat sekitar," ujarnya.

Iskandar menyebutkan teknologi insenerator yang nantinya akan dipakai bisa mengolah sampah baru dan sampah lama. Sehingga, tumpukan sampah yang ada sekarang ini bisa berkurang dan sisa lahan yang ada bisa digunakan untuk pembangunan ruang terbuka hijau (RTH).

“Jadi tidak butuh lahan luas, karena sampah akan dibakar dan diolah dalam insenerator. Jadi dipadukan 80% sampah baru dan 20% sampah lama, jadi sampah yang ada sekarang perlahan-lahan bisa berkurang," pungkasnya.



(tyk)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif