alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Siswi SD di Pangkep Jadikan Kemasan Bekas Detergen Sebagai Tas

Muhammad Subhan
Siswi SD di Pangkep Jadikan Kemasan Bekas Detergen Sebagai Tas
Nirwana saat menjinjing tas dari kemasan bekas detergen yang digunakan sebagai pengganti tas. Foto: SINDOnews/Muhammad Subhan

PANGKEP - Semangat Nirwana, siswa SD 60 Kampung Buung, Kelurahan Bontoa, Kabupaten Pangkep patut diacungi jempol. Meski dengan segala keterbatasan finansial kedua orang tuanya, Nirwana tetap semangat menempuh pendidikan.

Nirwana adalah putri pasangan Nuggu (32 tahun) dan Hasna (19 tahun). Kedua orang tua Wana bekerja sebagai buruh tani yang berpenghasilan tak lebih dari Rp500 ribu sebulan. Dengan kondisi finansial begitu, kedua orang tua Nirwana tak selalu bisa memenuhi perlengkapan sekolah putrinya. Khususnya sepatu dan tas.

Makanya, Nirwana hanya menggunakan sandal jepit saat berangkat ke sekolah. Sementara tas untuk menyimpan buku dan alat tulis, diganti dengan menggunakan kemasan bekas detergen.



Menurut Nirwana, sendal dan tas dari kemasan bekas detergen yang digunakan untuk sekolah bukan masalah baginya.

"Yang penting bisa sekolah," kata Nirwana sambil memperlihatkan isi bekas kemasan detergen yang dijinjingnya itu. Buku, bolpoin serta alat bantu menghitung tersusun rapi didalamnya.

Siswi SD di Pangkep Jadikan Kemasan Bekas Detergen Sebagai Tas
Nirwana bersama keluarganya. Nirwana dan keluarganya tinggal di sebuah gubuk reyot sejak empat tahun terakhir. Foto: SINDOnews/Muhammad Subhan

Semangat Wana, sapaan Nirwana sebenarnya bukan hanya diuji dari segala keterbatasan finansial kedua orang tuanya. Tapi juga jarak yang harus dia tempuh untuk sampai di sekolah.

Setiap harinya, Wana yang duduk di kelas empat ini harus berjalan tak kurang dari satu jam untuk tiba di sekolahnya yang berada di atas gunung. Juga, tak ada fasilitas jalan yang memadai untuk sampai di kampung lokasi sekolah Wana berada. Untuk mencapai kampung itu, satu-satunya akses yaitu dengan jalan kaki.

Namun, angan-angannya menjadi guru seperti menjadi cambuk khusus yang menghapus lelahnya menempuh jalan terjal tersebut.

"Jam 06.00 saya jalan ke sekolah jadi jam 07.00 sampai. Saya harus rajin ke sekolah karena mauka jadi guru," cerita Wana, sulung dari empat bersaudara itu.

Hasnah, ibu Wana mengatakan, putrinya adalah anak yang rajin ke sekolah. Setiap hari pergi sekolah berjalan kaki, meski kadang tidak sempat sarapan, ataupun makan apapun. Meski hanya tinggal di gubuk reyot berukuran 2x3 sejak 4 tahun lalu dengan segala kekurangannya, keluarga Wana punya cita-cita untuk tetap memberikan pendidikan setinggi-tingginya pada anak mereka.

"Kami akan berusaha sekuatnya agar Wana bisa tetap sekolah agar bisa menjadi guru," ujar Hasnah.

Sementara itu, salah seorang guru SD 60 Buung, Andi Hasbi membenarkan kondisi siswanya itu.

Menurutnya, Wana hanya satu dari gambaran siswanya yang mengalami kesulitan ekonomi. Ia menuturkan, lokasi Kampung Buung yang terisolir membuat banyak warga dengan kondisi ekonomi lemah.

"Seperti itu kondisinya, bukan hanya Wana ada beberapa siswa di sana juga yang miskin. Orang tua mereka petani yang bergantung musim. Musim hujan bertani, kalau kemarau biasanya mereka ke kota kerja serabutan demi bertahan hidup," jelasnya.

Meski begitu, ia memuji semangat anak didiknya yang rela menempuh perjalanan yang berat dengan fasilitas seadanya untuk sampai ke sekolah.

"Semangat mereka luar biasa, ada yang hanya pakai sandal, kadang juga ada yang tak sempat sarapan demi tepat waktu tiba di sekolah," ucap Hasbi.



(man)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook