alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Pengusaha Lokal Merasa Kurang Dilibatkan di Festival Salo Karajae

Darwiaty Dalle
Pengusaha Lokal Merasa Kurang Dilibatkan di Festival Salo Karajae
Pengusaha lokal di Kota Parepare merasa kurang dilibatkan dalam pelaksanaan Festival Salo Karajae. Foto: SINDOnews/Darwiaty Dalle.

PAREPARE - Sukses pelaksanaan Festival Salo Karajae (FSK) yang digelar di kawasan Tonrangeng River Side (TRS) Kota Parepare ternyata menyisakan kekecewaan. Sejumlah pengusaha lokal mengeluhkan akses untuk berpartisipasi. Padahal, FSK sejatinya dapat menjadi ajang promosi usaha, khususnya bagi pengusaha yang ada di Parepare.

Reyes, salah seorang pengusaha muda Parepare, mengatakan selama sepekan pelaksanaan FSK, areal tersebut justru didominasi pengusaha luar. Pengusaha lokal terkesan kurang dilibatkan dan hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Hanya segelintir pengusaha lokal yang turut ambil bagian.

"Sangat sedikit pengusaha lokal yang dilibatkan. Tidak ada open recruitment. Selain biaya sewa yang tidak pro terhadap pemberdayaan pengusaha muda, kami memang tidak pernah diajak," katanya, Kamis (3/10/2019).



Dikonfirmasi terkait hal itu, Plt Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Parepare, Amarun Agung Hamka, membantah tidak melibatkan pengusaha lokal. Kata dia, justru pengusaha lokal yang tidak memiliki minat dengan kegiatan yang menelan anggaran sebesar Rp250 juta tersebut.

"Mereka kurang percaya kalau kegiatannya akan ramai dan menguntungkan jualannya," jelasnya.

Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Parepare tidak pernah membatasi jumlah peserta yang ingin bergabung area kegiatan FSK. Hamka menyebut bahkan dua pihak event organizer yakni Smart Media dan Hahesa telah melakukan sosialisasi dan promosi sebulan sebelum kegiatan digelar.

"Tapi tidak ada tanggapan dari lokal (pengusaha). Dan FSK berjalan sukses dengan perputaran uang yang mencapai miliaran rupiah di lokasi kegiatan," katanya.

Sementara Iwan selaku pengelola EO Mahesa menjabarkan setidaknya 18 stan didirikan dalam areal kegiatan FSK. Empat di antaranya diisi oleh pengusaha lokal. Sementara biaya sewa stan bervariatif, rentang Rp1,5 juta hingga Rp5 juta. "Jika itu dianggap tinggi, kami juga menyarankan per stand diisi beberapa pengusaha yang mungkin ingin join, sehingga biaya sewanya lebih ringan," jelasnya.

Pada event serupa, tambah Iwan, dipersoalan biaya sewa stan memang kerap dianggap sebagai masalah oleh pengusaha lokal. Padahal, katanya, pihaknya selaku EO yang kerap bekerjasama dengan pemerintah menggelar kegiatan pameran amupun event serupa lainnya, membuka akses awal bagi pengusaha lokal.

"Jadi soal biaya sewa stan memang sudah menjadi alasan klasik pengusaha lokal sehingga kurang meramaikan event pameran pembangunan," tandasnya.



(tyk)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook