alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Nurul Yakin, 8 Jam Sembunyi di Rumah Kepala Suku Sebelum Dievakuasi

Herni Amir
Nurul Yakin, 8 Jam Sembunyi di Rumah Kepala Suku Sebelum Dievakuasi
Nurul Yakin, pengungsi dari Wamena yang kini sudah kembali di tanah kelahirannya di Kabupaten Gowa. Foto: Sindonews/Herni Amir

SUNGGUMINASA - Senin pagi (23/09/2019) arus lalu lintas di Jalan Timur Kota Wamena berjalan normal. Cuaca pagi itu, juga tampak cerah. Nurul Yaqin tiba di Kantor Pos tempatnya bekerja sehari-hari sekitar pukul 08.00.

Sekolah yang dilaluinya pun pagi itu beraktivitas seperti biasa.Tidak ada tanda-tanda akan terjadi kerusuhan yang sampai menewaskan 33 orang. Namun selang satu jam kemudian, sekitar pukul 9.00 Waktu Indonesia Timur, suasana langsung berubah mencekam.

Saat itu dirinya masih bersih-bersih di dalam gedung kantor Pos. Tiba-tiba gaduh terdengar dengan teriakan orang-orang.



"Ada orang teriak-teriak dari luar kantor ada kerusuhan dan pembakaran. Saya kaget. Selama ini baik-baik saja. Kejadiannya betul-betul secara tiba-tiba," ungkapnya.

Nurul Yaqin lalu berlari keluar kantor. Gumpalan asap sudah terlihat membumbung di udara.
Peristiwa yang membuat ribuan orang harus mengungsi tersebut adalah kejadian pertama yang Nurul Yaqin alami semenjak di Wamena dalan kurun lima tahun lalu.

Nurul Yaqin lalu bergegas menuju rumah kontrakan di Jalan Honai Lama Wamena untuk menemui Isterinya Titin Irayani dan dua orang anaknya Arsila Nahwa dan Dzaki Zafran Syabani serta adiknya.

Mereka tak sempat menyelamatkan harta benda. Kerusuhan yang terjadi dimana-mana membuat keluarga ini hanya membawa pakaian yang melekat di badan.

Dia beruntung, di tengah ketakutan menyelimuti keluarga kecil ini, seorang warga lokal bernama Lio Kosai menyelamatkan mereka dengan menjadikan rumahnya sebagai tempat persembunyian sebelum akhirnya dievakuasi oleh aparat.

"Kami bersembunyi 8 jam di rumah ketua suku. Sekitar pukul 4 sore aparat kepolisian dan TNI mulai mengevakuasi warga termasuk kami sekeluarga untuk mengungsi ke Kodim 1702," paparnya.

Kodim 1702 menjadi salah satu tempat pengungsian di Kota Wamena. Nurul Yaqin bertahan selama 6 hari di Kodim 1702 bersama ribuan pengungsi lainnya sebelum ia diberangkatkan ke Jayapura menggunakan pesawat herkules milik TNI Angkatan Udara (AU).

"Untuk bisa menggunakan herkules, kami harus menunggu karena waktu itu padat sekali orang berdesak-desakan untuk naik herkules. Satu minggu saya ngungsi di Kodim, habis itu saya ke Jayapura rumah keluarga," kisahnya.

Setelah dua hari mengungsi di rumah keluarga di Jayapura dan melihat kondisi Wamena yang masih mencekam, Nurul Yaqin memutuskan untuk membawa keluarganya kembali ke Gowa.

Berkat pinjaman uang, ia akhirnya menggunakan pesawat komersil untuk membawa keluarganya kembali ke Kabupaten Gowa.

"Dari Jayapura ada yang dermawan membantu saya, saya pinjam dulu uang untuk beli tiket. Yang penting istri dan anak-anak saya sampai ke Gowa ke Makassar dulu," ungkapnya.

Nurul Yaqin yang ditemui di rumah keluarganya Desa Bontoala Kecamatan Pallangga juga mengungkapkan bahwa keberadaan di Wamena sejak 2015 lalu karena ditugaskan sebagai Da'i pedalaman dari Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Jawa Timur.

Selama menyebarkan syiar Islam di tanah Papua tersebut, Nurul Yaqin mengungkapkan bahwa tidak ada kendala berat yang ia hadapi. Bermodalkan ilmu agama yang ia peroleh selama mondok di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Jawa Timur, Nuril Yaqin terus berdakwah dari masjid ke masjid.

Memanfaatkan waktu luangnya, selain sebagai pegawai di Kantor Pos, ia juga memanfaatkan waktunya untuk mengajar mengaji anak-anak penduduk muslim. Selama perjalanan dakwahnya, Nurul Yaqin mengaku juga sudah mengislamkan beberapa warga non muslim.

"Selama ini saya di sana itu ngajar anak-anak ngaji. Artinya selama ini saya bersama masyarakat Papua itu baik baik saja. Orang Papua itu semuanya baik-baik orang Papua semuanya ramah-ramah. Cuma ini adalah musibah bagi kita semua kita harus bersabar," ucapnya.

Sementara untuk kembali ke Kota Wamena, Nurul Yaqin mengaku butuh untuk berpikir 3 kali. Menurutnya peristiwa kerusuhan, perusakan, pembakaran dan teriakan yang terjadi di depan mata masih terngiang-ngiang diingatannya. Rasa trauma yang ia alami bersama keluarga membuatnya harus berpikir panjang untuk kembali ke Wamena.

"Kita lihat kondisi dulu situasi dulu, memang trauma masih ada di antara kita, saya sendri masih trauma melihat kejadian itu. Wallahu 'a'lam Kita tidak tahu kedepannya bagiamana. Kalau misalnya ada yang lebih biak untuk sementara saya di Gowa dulu. Untuk sementara saya bertahan di sini dulu siapa tahu nanti ada jalan lebih baik," harapnya.



(agn)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook