alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Program Pengembangan Jagung di Takalar Terapkan Teknologi Australia

Tim Sindonews
Program Pengembangan Jagung di Takalar Terapkan Teknologi Australia
Gubernur Sulsel, HM Nurdin Abdullah meninjau manajemen air di Australia. Foto: Istimewa

MAKASSAR - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), HM Nurdin Abdullah, berencana menerapkan manejemen pengairan pertanian Australia pada pengembangan jagung di atas lahan seluas 200 hektare di Takalar.

Hal itu disampaikan Nurdin Abdullah usai melakukan kunjungan di Australia. Salah satunya di Netafim. Perusahaan yang memproduksi pipa, selang, dan komponen pengairan yang mendukung sistem mekanisasi pertanian.

"Sistem manajemen air dalam program pengembangan jagung di Takalar yang di mulai tahun 2019 ini, menjadi tonggak peradaban pertanian modern di Sulsel," sebut Nurdin seperti dalam keterangan yang diterima SINDOnews, Rabu (9/10/2019).



Sekadar diketahui, Nurdin Abdullah melakukan kunjungan ke Australia melalui konjennya yang berada di Makassar. Nurdin bertolak ke Australia pada Minggu (6/10/2019). Rombongan didampingi konsul Australia di Makassar, Aron Cirbett.

Perusahaan Netafim yang dikunjungi rombongan Pemprov Sulsel adalah perusahaan yang menjalankan mekanisasi pertanian dengan sistem menagemen air yang sangat teratur dan terukur di sana. Netafim memproduksi pipa dan komponen pipanisasi pertanian yang lengkap untuk berkembangnya sistem pertanian modern di Australia.

Air di sana, dikelola dan diukur dengan sistem digitalisasi. Selang produksi Netafim sudah dilengkapi dengan lubang air dengan ukuran besaran lubang yang sama pada jarak tertentu, tiap 50 centimeter.

Pipa ditanam pada kedalaman tertentu pada jarak satu meter tiap bedengan. Air yang dipasok melalui pipa ini diatur pada waktu-waktu tertentu dan dapat dikontrol mengunakan aplikasi di handphone. Air dipompa dari kolam sekitar 20x5 meter dengan kedalaman satu meter. Kolam penampungan ini mampu mengairi lahan 40 hektare.

"Sumber air dipasok dari bendungan. Kami punya empat bendungan," jelas John Poggioli, Area Sales Manager Netafim.

Program perpipaan produksi Netafim menggunakan GPS, sehingga kata John, dapat diketahui dengan segera jika ada kebocoran, dan tingkat kelembaban yang berdasarkan kebutuhan tanaman.

Manager Director Netafim, Levy Schneider, menjelaskan, sistem managemen air ini telah mereka kembangkan di India dan Afrika Selatan, yang terkenal krisis air. Pemerintah India, jelasnya, membuat program peningkatan kesejahteraan petani memanfaatkan sistem pengairan tetes dengan anggaran 100 juta dolar Amerika.

Pada tahun pertama, program ini berhasil meningkatkan produksi pertanian dengan nilai setara 100 juta dolar AS dan meningkatkan kesejahteraan 27.000 petani setempat.

Di Austalia juga, katanya, minim sumber daya air sehingga harus dimanajemen dengan baik, melalui program penghematan air.

Di Australia menurut Levy, petani membayar air untuk pengairan 800 dolar Australia atau 7,6 juta rupiah dengan kurs 9.536 per dolar Asutralia, per 1.000 kubik.

"Petani membayar karena hasil pertanian mereka menguntungkan. Tiap hektare lahan memproduksi 19 ton jagung dengan tingkat basah 20 persen," katanya.

Dijelaskan baru 13 persen dari total lahan pertanian di dunia yang menggunakan sistem manajemen irigasi tetes. Di dalam sistem ini menyupelai kebutuhan tanaman seperti air, pupuk cair, dan nutrisi.



(man)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif