alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Pengusaha Ekspedisi Tuding Penutupan Gudang Tebang Pilih

Vivi Riski Indriani
Pengusaha Ekspedisi Tuding Penutupan Gudang Tebang Pilih
Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Dinas Perdagangan Kota Makassar, Syahruddin mendengarkan protes para Massa yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Ekspedisi (Hipeksi) di Jalan AR Hakim. Foto: Sindonews/Muchtamir Zaide

MAKASSAR - Rencana penutupan gudang dalam kota ditolak puluhan pengusaha ekspedisi. Lima gudang yang seharusnya ditutup di Kecamatan Tallo terpaksa ditunda meski SK penindakan telah dikantongi.

Puluhan personel Satpol PP dibackup TNI-Polri bahkan sudah dikerahkan untuk menutup gudang dalam kota. Titik awal penindakan yakni gudang yang ada di Jalan AR Hakim dan Jalan Gatot Subroto Kecamatan Tallo Kota Makassar, Kamis, (17/10/2019).

Massa yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Ekspedisi (Hipeksi) bahkan menuding Pemerintah Kota (Pemkot) Kota Makassar tebang pilih dalam menindak tegas aktivitas gudang dalam kota sebagaimana yang diatur dalam Perwali 93/2005.



Pasalnya, pemkot hanya menindak tegas pengusaha ekspedisi namun seakan tutup mata dengan aktivitas pergudangan yang melakukan bongkar muat barang dan meresahkan masyarakat.

"Isi regulasi itu pergudangan dan ekspedisi, yang jadi pertanyaan gudang real selama ini tidak pernah dilakukan teguran apalagi penindakan, kalau memang ada mana buktinya," tegas Ketua Hipeksi Makassar, Hasanuddin, saat ditemui di lokasi penutupan, di Jalan AR Hakim.

Selain itu, pihaknya juga meminta pemerintah untuk menindak tegas pengusaha otobus (PO) yang melakukan aktivitas bongkar muat barang di luar ketentuan. Apalagi, pengusaha ini telah diberikan fasilitas oleh negara berupa terminal, berbeda halnya dengan pengusaha ekspedisi.

Hasanuddin bahkan berdalih pelanggaran yang dilakukan pengusaha ekspedisi yaitu melakukan aktivitas bongkar muat di badan jalan. Hanya saja, kata dia jika aktivitas bongkar muat dilakukan di area ekspedisi apa bedanya dengan pergudangan skala besar.

"Kenapa cuma kita yang disurati kenapa gudang real yang dalam kota tidak pernah disurati. PO yang bukan hanya melakukan penerimaan penumpang juga sekaligus menerima barang, kalau begitu apa bedanya dengan ekspedisi justru mereka ada pelanggarannya disitu harusnya muat orang tapi kenapa juga muat barang," tegasnya.

Dia mengaku pihaknya telah membuat surat pernyataan bersedia pindah ke tempat yang telah ditentukan yakni Kecamatan Biringkanayya dan Kecamatan Tamalanrea. Hanya saja, pihaknya meminta agar unsur keadilan lebih ditekankan sehingga tidak hanya usaha ekspedisi yang ditindak tetapi juga pergudangan real.

"Kami sudah buat pernyataan ketika kami dibantu untuk menyiapkan tempat kami siap pindah, yang penting kebijakan dalam pelaksanaan regulasi itu harus adil dan jangan tebang pilih," ungkapnya.

Diketahui, penutupan gudang tidak hanya menyasar Kecamatan Tallo tetapi juga tiga kecamatan lainnya yakni Kecamatan Bontoala, Kecamatan Ujung Tanah, dan Kecamatan Wajo. Hanya saja, tahap pertama dilakukan di Kecamatan Tallo dengan menutup lima gudang.

Bahkan, berdasarkan data yang dihimpun Dinas Perdagangan kurang lebih ada 200 gudang yang akan ditindak di empat wilayah itu, dan 51 gudang diantaranya berada di Kecamatan Tallo.



(agn)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook