alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Mahasiswa dan Keluarga Korban Demo Desak Pembunuh Staf UNM Dihukum Mati

Herni Amir
Mahasiswa dan Keluarga Korban Demo Desak Pembunuh Staf UNM Dihukum Mati
Mahasiswa dan keluarga korban mendesak agar pembunuh staf UNM Siti Zulaeha dihukum mati atau setidak dipenjara seumur hidup. Foto: SINDOnews/Herni Amir.

SUNGGUMINASA - Massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Sinjai dan keluarga korban menggelar aksi unjuk rasa di depan Pengadilan Negeri Sungguminasa, Selasa (22/10/2019). Dalam aksinya, mahasiswa dan keluarga korban mendesak agar hakim memberikan keadilan dengan memberikan hukuman mati atau hukuman seumur hidup kepada oknum dosen UNM, Wahyu Jayadi, yang telah membunuh staf UNM, Siti Zulaeha.

Demonstrasi yang juga diikuti keluarga korban itu menuntu agar majelis hakim pada perkara itu memutuskan secara adil. Aksi tersebut dilakukan bertepatan dengan sidang pembunuhan terdakwa dengan agenda pembacaan replik atas pembacaan pledoi oleh tim penasehat hukum (PH) Wahyu Jayadi.

Massa menyampaikan tuntutannya langsung di hadapan Ketua PN Sungguminasa, Hebbin Silalahi. Aksi unjuk rasa itu berlangsung damai dengan dikawal oleh aparat Polres Gowa. Ada tiga tuntutan massa ke pihak pengadilan yakni hakim dan JPU bertindak profesional dalam bekerja, menegakkan supremasi hukum dan keadilan, dan menjatuhkan hukuman mati atau paling rendah seumur hidup kepada terdakwa.



Suami Siti Zulaeha, Sukri Tenri Gau, yang turut hadir dalam aksi tersebut, menyebut tuntutan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Arifuddin Achmad pada sidang beberapa waktu lalu, dinilai tidak sebanding dengan perbuatan terdakwa Wahyu Jayadi.

"Kematian Zulaeha merupakan pembunuhan berencana. Sementara, hukuman yang diberikan oleh terdakwa hanya penjara selama 14 tahun, kami kalau bisa maunya seumur hidup atau hukuman mati," ungkapnya.

Sementara itu, pihak keluarga dalam persidangan dengan agenda replik tersebut, masih terlihat sedih saat Jaksa Penuntut Umum Citra Permata Sari, membantah terhadap pembelaan terdakwa yang disampaikan minggu lalu. Pihaknya bersikukuh tuntutan awal 14 tahun tetap dijalankan sesuai dengan pasal 338 KUHP (pembunuhan).

Seperti yang diketahui, dalam pledoi Wahyu Jayadi yang dibacakan Minggu lalu, Selasa, 15 Oktober, tim penasihat hukum terdakwa yang diketuai M Syafril Hamzah meminta kliennya tidak dihukum sesuai pasal 338 KUHP.

Sebaliknya, ia meminta kliennya dibebaskan dari segala tuntutan. Alasannya, tindakan yang mengakibatkan nyawa Siti Zulaeha Djafar melayang hanya spontanitas dan tanpa ada unsur perencanaan.

"Terdakwa juga sudah beberapa kali meminta maaf kepada keluarga korban. Khususnya kepada suami Zulaeha, Sukri Tenri Gau," kata sang pengacara Wahyu Jayadi, M Syafril Hamzah.



(tyk)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook