alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Sewindu, OJK Sukses Dongkrak Literasi dan Inklusi Keuangan di Sulsel

Marhawanti Sehe
Sewindu, OJK Sukses Dongkrak Literasi dan Inklusi Keuangan di Sulsel
Kepala OJK Regional VI Sulampua, Zulmi, memaparkan capaian kinerja OJK yang kini memasuki usia sewindu. Foto: SINDOnews/Muchtamir Zaide

MAKASSAR - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merayakan hari ulang tahun (HUT) yang ke-8 tepat tanggal 22 November ini. Berbagai capaian telah diraih oleh lembaga independen pengawas industri jasa keuangan ini di usianya yang kini sewindu.

OJK Regional VI Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua) pun patut berbangga karena sukses meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Sulsel. Hal ini terbukti dari hasil survey nasional literasi dan inklusi keuangan (SNLIK) yang baru-baru ini dilakukan.

Tercatat di tahun 2019, tingkat literasi keuangan di Sulsel telah mencapai 32,46%. Angka tersebut terus merangkak naik setiap tahunnya. Dimana pada tahun 2013, tingkat literasi keuangan di Sulsel hanya berada di angka 14,36% saja, lalu meningkat menjadi 28,36% pada tahun 2016.



Tren serupa juga terlihat di tingkat inklusi keuangan Sulsel, dimana pada tahun 2013 hanya mencapai 52,5%, lalu meningkat menjadi 68% pada tahun 2016, dan pada tahun 2019 ini kembali menunjukkan peningkatan positif yakni mencapai 86,91%.

Angka tersebut bahkan melampaui target inklusi keuangan sebesar 75% serta melampaui pencapaian inklusi keuangan secara nasional yang hanya berada di angka 76,19% saja.

Dari data tersebut, indeks literasi keuangan di pedesaan sedikit lebih rendah yakni 26,32% dari daerah perkotaan yang mencapai 38,54%. Tren serupa juga terjadi di indeks inklusi keuangan yakni khusus di perkotaan mencapai 93,8% sedangkan di pedesaan mencapai 80%.

Kepala OJK Regional VI Sulampua, Zulmi, saat press conference di Aston Hotel, kemarin, mengatakan pencapaian tersebut berkat sinergi dan kolaborasi setiap stakeholder diantaranya OJK, Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, Forum Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Sulselbar, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Sulsel dan lain-lain.

Khusus tahun 2019 ini, tercatat realisasi inklusi keuangan atau pembukaan rekening baru mencapai 1.647.334. Rekening baru terbesar adalah rekening Dana Pihak Ketiga (DPK) yakni mencapai 910.944 rekening, disusul rekening Kredit Usaha Rakyat (KUR) 271.023 rekening, akses tabungan emas sebanyak 103.362 rekening dan lain-lain.

Dari data tersebut menunjukkan perbandingan antara indeks literasi dengan inklusi keuangan cukup signifikan. Artinya, masih terdapat nasabah yang menggunakan produk industri jasa keuangan tanpa memahami produk tersebut dengan baik.

Menurut Zulmi, perbedaan tersebut terjadi karena kebutuhan masyarakat terhadap produk industri keuangan yang mengharuskan mereka membuka rekening tanpa mengenal lebih mendalam terkait produk tersebut.

Zulmi mencontohkan, hal ini terjadi ketika masyarakat yang hendak umrah atau melakukan ibadah haji diwajibkan menyetorkan biaya di industri jasa keuangan. "Misal mau naik haji, buka rekening di bank, tapi ketika ditanya cara menghitung bunganya mereka tidak tau," katanya.

Kasus lainnya adalah pemahaman terhadap asuransi yang dimiliki setiap pengguna sepeda motor dan memiliki STNK. Tidak banyak yang tau bahwa pengguna sepeda motor tersebut telah dicover oleh asuransi dan bisa diclaim ketika mengalami kecelakaan.

"Gape seperti ini terjadi, kalau di kota milenial gampang dapat info dan cari tapi masyarakat di desa informasi masih terbatas. Ini memang jadi tantangan, tapi dengan mudahnya informasi saat ini, literasi kita ke depan akan semakin baik," jelas Zulmi.

Selain itu, dia juga menjelaskan OJK mengalami banyak tantangan dalam menjalankan fungsinya sebagai pengawas industri jasa keuangan sekaligus memberikan perlindungan kepada konsumen.

Menurut dia, tantangan terbesar adalah melakukan pengawasan dan perlindungan konsumen dengan menjangkau setiap daerah di Sulsel karena banyak yang berlokasi di daerah dan pulau terpencil dan untuk mengaksesnya membutuhkan usaha yang lebih besar.

"Jadi kami mengandalkan laporan yang mereka sampaikan, lembaga itu sendiri. Kita harus meyakini laporan itu. Kalau misalnya NPL dan Kredit baik-baik saja, tapi laba terus turun, kita telusuri apa masalahnya," katanya.

Meski demikian, kemajuan teknologi semakin memberikan kemudahan kepada OJK dalam menjalankan fungsinya, karena saat ini OJK sedang fokus mendesain sistem pengawasan berbasis teknologi sehingga ke depan pola konvensional mulai akan tergerus.



(tyk)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook