alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Ricuh Sengketa Lahan di Makassar, Warga Saling Serang Pakai Batu dan Sajam

Faisal Mustafa
Ricuh Sengketa Lahan di Makassar, Warga Saling Serang Pakai Batu dan Sajam
Kepolisian susah payah meredam bentrok warga di Antang, Kota Makassar, yang dipicu gegara sengketa lahan. Foto: SINDOnews/Faisal Mustafa

MAKASSAR - Bentrokan antar warga terjadi di Jalan Antang Raya, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, pada Jumat (22/11/2019) sekitar pukul 14.00 Wita. Ratusan warga saling serang memakai batu. Bahkan, ada yang menggunakan senjata tajam berupa ketapel/busur lengkap dengan anak panahnya. Peristiwa ini diduga dipicu sengketa lahan.

Kapolsek Manggala, Kompol Hasniati, yang turun langsung melakukan pengamanan bahkan nyaris jadi korban lemparan batu. Beruntung anggotanya dengan sigap melindungi sang komandan dari 'hujan' lemparan batu di lapangan sepak bola yang jadi objek lahan yang dipersengketakan.

"Iya nyaris kena, ya untung ada anggota saya mendampingi. Wakapolsek juga kena, luka ringan di tangannya kena batu," terang Hasniati.



Ia menceritakan bentrokan itu bermula dari serangan kelompok warga terhadap warga lainnya yang sedang menggelar aksi gelar sajadah di Lapangan Sepak Bola Antang. Aksi gelar sajadah itu sendiri disinyalir masih merupakan bagian dari upaya salah satu kelompok warga mempertahankan objek lahan tersebut.

Hasniati menjelaskan lahan yang menjadi objek sengketa seluas seribu meter persegi kerap dijadikan tempat ibadah Salat Ied, selain sebagai sarana olahraga. "Beberapa waktu terakhir memang digunakan untuk salat ied, untuk olahraga juga. Tapi kembali saya bilang sengketa antara pemerintah dan ahli waris masih berjalan," paparnya.

Saat kondisi chaos, polisi berpangkat satu bunga ini meminta bantuan ke Polrestabes Makassar guna membubarkan aksi anarkis ini. "Kami dari kepolisian hanya mengamankan kondisi yang bisa mengganggu Kamtibmas. Untuk personel Polsek Manggala sekitar 40 ditambah 1 SSK dari Polrestabes kemudian 1 regu Patmor Polrestabes," tukasnya.

Diketahui tanah itu diklaim sebagai milik Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar. Belakangan, terbit sertifikat lagi mengatasnamakan seorang warga yang keabsahannya masih dipertanyakan. Pengklaim lahan itu berdasarkan informasi bernama Sanga Daeng Caya.

Warga menduga sertifikat kepemilikan hingga rincik lahan itu palsu. Toh, objek sengketa yang tertuang di dalam sertifikat bernomor 20111 menunjukan lokasi bukan pada objek yang saat ini sedang dipersengketakan.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Yudhiawan Wibisono, menjelaskan karena belum ada kejelasan antar warga pengklaim dan warga yang menolak, pihak kepolisian akhirnya menjadikan tanah sengketa itu sementara waktu berstatus sebagaimana awalnya.

"Masalah tanah ini tidak ada kepentingannya kita dari polisi. Yang penting jangan sampai ada yang menjadi korban lagi. Jadi sementara kita status quo-kan dulu, soalnya kalau dipakai oleh masyarakat untuk aktivitas, pasti timbul masalah," terangnya.

Bentrokan yang sempat berlangsung beberapa jam itu sendiri akhirnya mereda setelah aparat kepolisian bersenjata lengkap mengamankan lokasi objek sengketa.

Kapolrestabes Makassar menyebut pihaknya akan berjaga di lokasi hingga kondisi benar-benar kondusif. Selain itu perkara lahan ini akan dibahas melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar melibatkan masyarakat agar posisi kedua belah pihak dalam objek yang disengketakan diketahui. Pertemuan rencakan akan dilangsungkan pada Senin (25/11) mendatang.

"Itu nanti melibatkan pihak-pihak terkait. Dengan perwakilan warga, perwakilan yang merasa juga punya tanah, kita cek. History dari tanah ini bagaimana," terang dia.

Dalam bentrok warga itu sendiri, Yudhiawan mengaku ada enam korban luka dan semuanya sudah dilarikan ke Puskesmas Antang yang berada persis di depan Lapangan Antang. "Ada beberapa kena batu. Ada sekitar enam orang tadi itu yang kena," tuturnya.



(tyk)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook