alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Kisah Pilu Kakak Beradik di Luwu, Dipasung Belasan Tahun karena Gangguan Jiwa

iNews.id
Kisah Pilu Kakak Beradik di Luwu, Dipasung Belasan Tahun karena Gangguan Jiwa
Anita Abdul Salam (25) terbaring tak berdaya karena mengalami gangguan jiwa saat ditemui di rumahnya di Desa Lare-Lare, Kecamatan Bua, Luwu, Sulawesi Selatan, Senin (2/12/2019). (Foto: iNews/Nasruddin)

LUWU - Kisah memilukan dialami keluarga Abdul Salam di Desa Lare-Lare, Kecamatan Bua, Luwu, Sulsel. Dua anaknya dipasung belasan tahun karena mengalami gangguan jiwa. Kondisi kakak beradik ini, Anita Abdul Salam (25) dan Saldi Abdul Salam (22) sangat memprihatinkan.

Abdul Salam dan istrinya, Suriani, tidak punya pilihan lain. Ia terpaksa memasung dua buah hatinya karena tidak punya biaya untuk merawatnya di rumah sakit. Kondisi ekonomi keluarga Abdul Salim memang cukup sulit.

Saat ditemui di kediaman Abdul Salam yang berdindingkan kayu, kakak beradik yang mengalami gangguan jiwa itu tampak berbaring di tempat tidur masing-masing.



Suriani mengatakan sang kakak, Anita, dipasung sejak tahun 2005. Sementara adiknya, Saldi, dipasung dalam 10 tahun terakhir. Karena kondisi keduanya makin memburuk, rantai untuk mengikat keduanya sudah dilepas sejak enam bulan lalu. Bahkan Anita kini mengalami kelumpuhan.

“Dua-duanya dipasung, karena kakaknya sering keluar tengah malam dan berjalan menuju Jalan Trans Sulawesi. Kalau adiknya ini suka mengamuk,” ucap Suriani.

Menurut Suriani, Saldi mengalami gangguan jiwa lantaran tak mampu melanjutkan sekolahnya. Keluarga tak mampu menyekolahkannya lantaran keterbatasan ekonomi. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka kadang meminjam uang dari orang lain.

“Bapak hanya buruh tani. Bapak juga menemani anak-anak jadi kadang ada penghasilan kadang tidak,” ujar Suriani.

Untuk menambah penghasilan Abdul Salam, ia menjual atap rumbia yang berasal dari daun Pohon Sagu. Namun karena kendala lamanya pembuatan dan sempitnya pasar membuat mereka kesulitan untuk menjual. “Kadang sebulan hanya terjual sepuluh lembar. Satu lembarnya seharga Rp4.000,” ucap Abdul Salam.

Suriani mengaku tak mendapat bantuan dari pemerintah daerah. Dia mengatakan kedua anaknya sudah tak pernah mendapat bantuan obat-obatan secara rutin dari dinas kesehatan setempat. Kedua anaknya itu juga tak pernah lagi mendapat fasilitas pengecekan kesehatan gratis.

Tak hanya itu, Suriani mengaku tak pernah menerima bantuan program keluarga harapan (PKH). Padahal keluarganya terdaftar dan sudah menerima kartu tanda penerima bantuan PKH. “Tidak ada (bantuan dari pemerintah), kecuali hanya bantuan raskin (beras miskin),” kata Suriani.



(tyk)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook