alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Kontribusi UMKM terhadap Ekspor Ditargetkan Capai 18%

Koran Sindo
Kontribusi UMKM terhadap Ekspor Ditargetkan Capai 18%
Menteri Koperasi dan UKM RI, Teten Masduki. Foto: SINDOnews/Dok

JAKARTA - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) RI, Teten Masduki menargetkan kontribusi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap ekspor di 2020 meningkat menjadi 18 persen dari sebelumnya 14 persen. Begitu juga dengan kontribusi UMKM terhadap PDB nasional meningkat menjadi 61 persen dan rasio kewirausahaan menjadi 3,55 persen.

“Kita juga akan meningkatkan jumlah koperasi modern dan UMKM naik kelas,” ujarnya di Jakarta, Senin (10/12/2019).

Teten melanjutkan, Kementerian Koperasi dan UKM telah menyusun strategi pemberdayaan UMKM dalam lima tahun ke depan. Strategi ini merupakan implementasi dari program pemerintah dalam pengarusutamaan UMKM dalam ekonomi nasional.



“Dalam roadmap pengembangan UMKM 2020 -2024, ada lima target yang hendak dicapai, yakni kenaikan ekspor UMKM, kontribusi UMKM terhadap PDB, rasio kewirausahaan, koperasi modern dan UMKM naik kelas,” jelasnya.

Dia menuturkan, pada 2024, ekspor UMKM ditargetkan sudah harus berada di level 30,20 persen. Kemudian kontribusi terhadap PDB 65 persen, dan rasio kewirausahaan 4 persen.

“Pertumbuhan ekonomi nasional bisa sebesar 5 persen itu karena belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat. Kita harus menjaga daya beli masyarakat tetap tinggi. Di sini, peran UMKM amat besar diperlukan,” tuturnya.

Menurut dia, struktur ekonomi berbentuk piramida seperti saat ini bukanlah struktur yang bagus, di mana usaha mikro begitu besar, sekitar 60 juta unit namun tidak berkontribusi siginifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“UMKM yang jumlahnya 99 persen namun dengan kontribusi yang tidak signifikan. Bandingkan dengan usaha besar yang hanya 1 persen namun memiliki kontribusi terhadap PDB sebesar 40 persen dan ekspor 80 persen,” paparnya.

Untuk itu, Teten menegaskan beberapa hal kebijakan pengembangan UMKM ke depan. Pertama, pengembangan UMKM dilakukan dengan pendekatan kelompok, komunitas, dan kluster.

Kedua, prioritas pada sektor riil (produksi) yang berorientasi ekspor dan substitusi impor. Ketiga, pemberdayaan KUMKM dilakukan secara lintas sektoral dengan One Gate Policy, dan melibatkan kemitraan dengan pihak ketiga (swasta). Keempat, pemberdayaan UMKM dilakukan secara variatif sesuai dengan karakteristik dan level UMKM.

“Yang tak boleh ketinggalan adalah modernisasi dan inovasi UMKM, harus sama dengan yang diterapkan usaha besar,” paparnya.

Teten menambahkan, daya saing produksi UMKM harus setara dengan usaha besar. Menurut dia, banyak UMKM belum terhubung dengan global value chain. Sementara pasar domestik saat ini sudah diserbu produk impor melalui e-commerce.

Apabila dibandingkan dengan UMKM sesama negara ASEAN, Indonesia masih berada di posisi ke-4 di bawah Malaysia, Singapura, dan Thailand.

“Index daya saing di ASEAN menyangkut sertifikasi internasional, kepemilikan akun bank, kemampuan mengelola usaha, hingga pengalaman manajerial, masih sangat rendah. Ini yang perlu kita tingkatkan,” ungkapnya.

Teten juga meminta Pemda agar mendorong pelaku UMKM untuk Go Online dalam pemasaran produknya. Dia meminta agar tidak hanya sekadar mengandalkan kualitas dan kemasan produk, serta unsur higienis saja, melainkan juga perilaku bisnis UMKM harus diperhatikan.

“Itu terkait pelayanan terhadap konsumen hingga tingkat kesiplinan UMKM merespon keinginan pasar,” tandasnya. (oktiani endarwati)



(man)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook