alexa snippet
more
TOPIK TERPOPULER

drg Besse, Jajal Medan Berat Demi Sebuah Pengabdian

Suwarny Dammar
drg Besse, Jajal Medan Berat Demi Sebuah Pengabdian
Dokter Gigi Besse Sudirman Sulo setiap kali akan melakukan pelayanan kesehatan ke sejumlah desa disekitar Kecamatan Rampi. Foto : Istimewa

LUWU - Perempuan muda itu terlihat sibuk memeriksa satu per satu tas ranselnya. Membuka lalu memeriksa satu per satu peralatan yang akan gunakan jika bertemu warga.

Tak hanya ransel yang diperhatikan, sesekali perempuan berhijab ini merapikan pakaian dan posisi sepatu yang digunakan. Aman, semua sudah sesuai harapan. Dengan sigap, dirinya segera naik ke atas motor sambil membawa tas ransel. Lalu kemudian, tangannya begitu erat memeluk tas yang disimpan tepat ditengah mengantarai dengan ojek yang membawanya. Sepanjang jalan, rutenya berat sehingga membuatnya tak selamanya harus duduk manis di atas motor.

Sesekali harus berjalan menyusuri jalan kecil, sehingga membuatnya seolah terhimpit diantara bebatuan ataupun gundukan tanah. Kondisi itu harus dilaluinya tidak dalam hitungan belasan menit, tapi sebaliknya bisa berjam-jam.

Kondisi inilah yang dialami, Dokter Gigi Besse Sudirman Sulo setiap kali akan melakukan pelayanan kesehatan ke sejumlah desa disekitar Kecamatan Rampi. Pun, meski harus menerjang badai hujan, menyusuri jalan terjal hal itu tak membuatnya patah arang tuk hadir melayani warga, berbagi ilmu dan berbagi cerita ke setiap yang ditemuinya.

Sejak 3 tahun dipercaya bertugas di Puskesmas Rampi, banyak hal tak biasa ditemuinya dan semuanya menjadi bagian suka duka dalam menjalani tugasnya untuk mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Ada enam desa masuk dalam cakupan wilayahnya untuk memberikan layanan kesehatan bersama tim medis lainnya, yakni Desa Rampi, Desa Sulaku, Desa Leboni, Desa Dadolo, Desa Tedeboe dan Desa Ondodowa.

“Jarak tempuh satu desa dengan desa lainnya berbeda-beda, ada yang hanya 10 menitan dari Ibukota Kecamaytan ada sampai berjam-jama dikarenakan medannya berat. Harus melewatri tanjakan, turunan, gunung,hutan, lembah, sawah. Kadang, kalau cuaca bagus perjalan bisa dilalu tanpa harus transit. Sebaliknya, jika hujan harus berkali-kali singga dan memakan waktu,” ujarnya menceritakan pengalamannya mengakses lokasi layanan kesehatannya, yang kadang tiap dua bulan baru dikunjungi.

Menurut Alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Unhas Angkatan 2003 ini, menjadi dokter di daerah terpencil bukan perkara mudah, karena benar-benar harus belajar banyak hal. Utamanya, bahasa dan culture, jika salah persepsi atau salah menyampaikan bisa-bisa pemahaman akan pesan tidak akan dimengerti.

Selain itu, bertugas di daerah terpencil tak membuatnya harus terpaku khatam menjalai profesinya sebagai dokter gigi. Tapi, harus pula dituntut bisa mengerjakan tugas-tugas dari dokter umum meski sifatnya pemeriksaan awal saja. Tapi, dirinya dituntut untuk itu apalagi pemahaman masyarakat semua dokter tahu semua jenis penyakit dan lainnya.

halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
sindonews ads