alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Ekonomi Amerika Serikat Berada di Ambang Kebangkrutan

Tim Sindonews
Ekonomi Amerika Serikat Berada di Ambang Kebangkrutan
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Foto : SINDOnews

MAKASSAR - Amerika Serikat (AS) tampaknya tengah berada di ambang kebangkrutan, kondisi ini lantaran pengeluaran biaya militer yang terus membengkak.

Para anggota Komite Layanan Bersenjata Parlemen AS pun mempertanyakan hal tersebut. Reaksi para anggota parlemen itu muncul saat rapat bersama Menteri Pertahanan AS James Norman Mattis.

Dalam rapat, Mattis minta parlemen mendukung alokasi anggaran militer lebih banyak guna melawan negara-negara yang mengancam "eksperimen demokrasi" Amerika.



"Di dunia yang terendam dalam perubahan dan ancaman yang meningkat, tidak ada tempat untuk berpuas diri," kata Mattis dalam pernyataan pembukaannya di rapat bersama.

"Rezim nakal seperti Korea Utara dan Iran, Islamic State (ISIS) dan kompetisi strategis jangka panjang dengan China dan Rusia," lanjut Mattis merinci daftar ancaman yang dia maksud.

Dia berpendapat kurangnya dana bisa diprediksi akan mengikis keunggulan AS dalam teknologi dan peperangan. Dia lantas memohon kepada anggota parlemen untuk menyetujui anggaran untuk militer.

"Tanpa didukung, alokasi yang dapat diprediksi, kehadiran saya di sini hari ini menghabiskan waktu Anda,” kata Mattis kepada parlemen. “Tidak ada strategi yang bisa bertahan tanpa pendanaan yang diperlukan untuk memanfaatkannya.”

Kongres AS telah menyetujui Undang-Undang Otorisasi Pembiayaan Pertahanan pada bulan Desember 2017, namun anggaran dalam UU itu yang mencapai USD700 miliar untuk tahun fiskal 2018 belum diadopsi. Hal itu membuat militer dan seluruh jajaran pemerintah Donald Trump bergantung pada kekuatan politik di parlemen.

"Jika Anda mengancam kami, ini akan menjadi hari terpanjang dan terburuk Anda," ucap Mattis. Tidak semua anggota komite di parlemen yakin dengan pendekatan Mattis untuk mencegah konflik tersebut.

Anggota parlemen dari Partai Demokrat, Adam Smith, mengkritik klaim menteri pertahanan tersebut yang menyatakan AS menghadapi bangkitnya kekuatan global baru. "Saya tidak percaya persaingan kekuatan yang hebat, sama dengan perlombaan senjata tanpa henti,” kata Smith.

Dia selanjutnya mempertanyakan komitmen Mattis terhadap diplomasi dan dialog sebagai cara menjamin keamanan nasional. Dia menyindir Departemen Pertahanan yang seolah-olah merendahkan diplomasi.

Anggota parlemen dari Partai Republik, Walter Jones, mempertanyakan hasil perang di Afghanistan yang telah berlangsung selama hampir 17 tahun dengan biaya USD1 triliun dan korban ribuan nyawa.

"Negara ini di ambang kebangkrutan," kata Jones, seperti dikutip Russia Today, Rabu (7/2/2018). Dia menunjukkan sikap plinplan pemerintah Trump yang semula komitmen untuk menarik pasukan AS dari Afghanistan, namun kini memutuskan untuk mengirim lebih banyak tentara ke negara itu.

"Tidak ada yang pernah menaklukkan Afghanistan, dan banyak yang telah mencoba. Kami akan bergabung dengan daftar negara yang telah mencoba dan gagal," ujar Jones.

Sekadar diketahui, pemerintah Trump pada bulan September 2017 memutuskan untuk mengirim 3.000 tentara tembahan AS ke Afghanistan. Banyak tentara AS yang ditempatkan di Irak juga telah mulai pindah ke Afghanistan pada minggu ini.



(sss)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook