TOPIK TERPOPULER

Warga Luwu Timur Keluhkan BBM Langka dan Mahal

Fitra Budin
Warga Luwu Timur Keluhkan BBM Langka dan Mahal
Antrean pengendara mobil untuk mengisi BBM di salah satu SPBU yang ada di Kabupaten Luwu Timur. Foto: SINDOnews/Fitra Budin

LUWU TIMUR - Sejumlah warga Kabupaten Luwu Timur mengeluhkan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang langka dan mahal. Kondisi tersebut merupakan dampak dari kerusakan berupa retaknya Jembatan Miring di Kota Palopo, yang membuat akses ke sejumlah kabupaten, seperti Luwu Timur dan Luwu Utara menjadi terhambat.

Kondisi itu diketahui membuat pasokan BBM dari Pertamina ke sejumlah wilayah Luwu Raya menjadi tersendat. Meski telah berlalu beberapa hari, warga hingga kini dilaporkan masih kesusahan mendapatkan BBM dengan harga terjangkau. BBM tetap tersedia secara eceran tapi dengan harga yang melambung tinggi dan cenderung tidak terkendali.

Baca Juga: Jalur Trans Sulawesi Putus, Begini Cara Pertamina Amankan Pasokan BBM

Salah seorang warga Luwu Timur, Ita, menyampaikan harga BBM eceran dijual bervariasi, rentang Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Perlahan, memang sudah ada BBM di SPBU tapi antreannya sangat panjang dan belum tentu semua warga dapat kebagian.

"Iya pak, ini kita susah beraktivitas karena BBM susah didapat, biasa kalau kita mengantre di SPBU biasa tidak kebagian karena asyarakat banyak juga yang mengantri," kata dia, Jumat (12/11).

Dari pantauan awak media, di Kecamatan Malili misalnya, terdapat dua SPBU yang kelabakan meladeni permintaan BBM. Antrean kendaraan warga bahkan mencapai ratusan meter. Guna memperoleh BBM, baik Pertalite, Pertamax dan Solar harus antre berjam-jam.

Keluhan senada disampaikan warga lainnya, Syarif, yang mengaku sudah jenuh karena telah mengantre berjam-jam, tapi belum kunjung mendapatkan BBM. Ia pun belakangan akhirnya memulih membeli BBM eceran meski harganya mahal, karena tiba-tiba ada urusan mendesak.

Baca Juga: Pertamina Suplai 320 Kilo Liter BBM untuk Lutim dan Lutra

Ia menyebut membeli BBM eceran seharga Rp25 ribu per botol. Adapun patokan harga pengecer bervariasi. "Saya buru-buru, sementara antrean masih lama, seperti tidak putus-putus. Jadi terpaksa beli di pengecer, saya beli 8 botol harganya belinya Rp200 ribu," tuturnya.

Salah seorang penjual BBM eceran di dekat SPBU Puncak Indah mengaku terpaksa menaikkan harga karena pasokan memang semakin menipis. Kata dia, sudah empat hari terakhir pihaknya tidak mendapatkan pasokan BBM.

"Termasuk murah ini pak yang saya jual, ada bahkan yang sekali jual sampai Rp40 ribu per liter," tukasnya. 



(tri)

TULIS KOMENTAR ANDA!