TOPIK TERPOPULER

Hakim Vonis Nurdin Abdullah 5 Tahun Penjara dan Denda Rp500 Juta

Tim SINDOnews
Hakim Vonis Nurdin Abdullah 5 Tahun Penjara dan Denda Rp500 Juta
Sejumlah warga mengikuti sidang putusan terdakwa kasus suap dan gratifikasi, Nurdin Abdullah di PN Makassar, Senin (29/11). Foto: SINDOnews/Muchtamir Zaide

MAKASSAR - Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi Pengadilan Negeri (PN) Kota Makassar, menjatuhkan vonis bersalah terhadap terdakwa kasus suap dan gratifikasi lingkup Pemprov Sulsel, HM Nurdin Abdullah dengan hukuman lima tahun penjara serta denda Rp500 juta.

Putusan dibacakan Ketua Majelis Hakim Ibrahim Palino dalam sidang yang digelar di PN Makassar, Jalan RA Kartini Kota Makassar, Senin (29/11). Adapun terdakwa Nurdin Abdullah mengikuti persidangan secara virtual.

Baca juga: Mantan Sekdis PUTR Sulsel Divonis 4 Tahun Penjara

"Menyatakan Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," kata Ketua Majelis Hakim, Ibrahim Palino dalam siaran langsung yang ditayangkan lewat YouTube KPK RI.

Majelis Hakim juga menjatuhkan hukuman tambahan berupa pencabutan hak dipilih dalam jabatan publik selama tiga tahun, terhitung sejak HM Nurdin Abdullah menjalani hukuman pokoknya.



Sementara itu, terdakwa lain dalam kasus ini, mantan Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sulsel, Edy Rahmat dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Dia juga divonis untuk membayar denda Rp200 juta subsidair dua bulan kurungan.

Baca juga: Hari Ini, Nurdin Abdullah Hadapi Sidang Putusan Kasus Dugaan Suap dan Gratifikasi

Ketua Majelis Hakim menyatakan Edy Rahmat telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dengan Gubernur nonaktif Sulsel, Nurdin Abdullah. Edy terbukti ikut serta menerima suap dan gratifikasi terkait sejumlah proyek di Sulsel.

"Mengadili, menyatakan terdakwa Edy Rahmat telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan alternatif pertama," ujar Hakim Ibrahim Palino.



(luq)

preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!