alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Sidang Perdana Kasus Ustadz Palsu Cabul di Bone Digelar Tertutup

Supriadi Ibrahim
Sidang Perdana Kasus Ustadz Palsu Cabul di Bone Digelar Tertutup
Terdakwah kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur, Abdul Salama, 36, saat hadir di persidangan. Foto: Supriadi Ibrahim/SINDOnews

BONE - Sidang perdana kasus ustadz palsu yang melakukan pencabulanĀ terhadap anak di bawah umur, dengan melibatkan tersangka Abdul Salama,36, di pengadilan Negeri Watampone Kabupaten Bone digelar secara tertutup pada Rabu, (11/04/2018).

Sidang perdana kasus yang sudah berjalan hampir tiga bulan ini beragenda pembacaan dakwaan, sekaligus pemeriksaan saksi korban.

Pantauan SINDOnews Makassar di Pengadilan Negeri Watampone, sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Panji ini pun berjalan tertutup.



Terlihat korban EI, 16, warga Kecamatan Tanete Riattang Barat, masuk ke dalam ruangan sidang Pengadilan Negeri Watampone, didampingi orangtua korban, dan Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA).

Kepala Pengadilan Negeri Watampone melalui Humanya Hamza mengatakan, agenda sidang kasus pencabulan ini adalah pembacaan dakwaan terhadap tersangka.

"Ini sidang perdana, dengan agenda pembacaan dakwaan berkaitan dengan jalannya sidang yang tertutup, dikarenakan perkara yang disidangkan ini terkait perkara asusila maka jalannya sidang ini tertutup. Tapi nanti saat sidang pembacaan putusan terhadap tersangka, maka sidang akan terbuka untuk umum," katanya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Watampone, Hermawati, ditemui usai sidang mengatakan Abdul Salama, dijerat dengan undang-undang perlindungan anak, karena, telah melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Modus pelaku adalah melakukan pengobatan pada pelaku karena selama ini pelaku dikenal memiliki kemampuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit, seperti asam urat.

Selain itu pelaku juga mampu memberikan jodoh kepada anak gadis dengan syarat pesien menyiapkan kelapa muda, gula merah dan pisang. Syarat yang mudah itu, membuat korban tertarik sehingga meminta bantuan pelaku.

Prosesi pengobatan selanjutnya dilakukan pelaku dengan memandikan korban. Saat dimandikan, pelaku melakukan aksinya dengan menyetuh kelamin korban hingga terjadilah pemerkosaan.

"Pasalnya yang kita jerat pelaku itu pasal 76D dan 76E Undang-Undang (UU) tentang Perlindungan Anak. Pasal pertama mengenai persetubuhan dan pasal kedua mengatur pencabulan," jelas Hermawati.



(agn)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook